Satu Tahun Pendidikan Berdampak: Menenun Akses, Mutu, dan Kesetaraan
Aolia-Dok Pribadi-
Namun, kemajuan ini belum merata. BPS (2025) mencatat 68% sekolah di wilayah 3T telah terhubung ke internet, naik dari 54% tahun sebelumnya, tetapi 32% sisanya masih belum menikmati koneksi stabil akibat kendala geografis dan biaya perangkat. Laporan Indonesia Digital Readiness Index (IDRI, 2025) bahkan menegaskan kesenjangan literasi digital antara Jawa dan Maluku–Papua masih mencapai 40 poin.
Menteri Abdul Mu’ti mengingatkan, “Digitalisasi bukan soal teknologi semata, tetapi tentang keadilan pengetahuan.” Pemerintah pun menyalurkan 288.000 Papan Interaktif Digital (IFP) ke sekolah-sekolah. Guru Puji Basuki dari SMKN 1 Kudus bercerita, “Anak-anak kini lebih antusias. Mereka merasa belajar itu bukan tugas, tapi pengalaman.”
Namun tantangan terbesar justru datang dari sisi manusia. Kajian Pusat Studi Pendidikan UGM (2025) menunjukkan, pelatihan guru baru menjangkau 47% tenaga pendidik di luar Jawa, dan 61% guru 3T belum terbiasa menggunakan Learning Management System (LMS) atau membuat konten ajar digital. Peneliti Dr. Nurul Aini menegaskan, “Tanpa pendampingan berkelanjutan, digitalisasi hanya akan menciptakan ilusi kemajuan—di atas kertas, bukan di ruang kelas.”
Hal senada disampaikan Indra Charismiadji, praktisi pendidikan digital. “Teknologi tanpa kurasi konten justru bisa membingungkan siswa. Akses saja tidak cukup; kualitaslah yang menentukan.” Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara pemerataan akses dan peningkatan kompetensi guru.
Dari sisi keluarga, Survei Katadata Insight Center (2025) mencatat hanya 43% orang tua di luar Jawa yang memahami cara mendampingi anak belajar daring secara efektif. Padahal dukungan rumah menjadi bagian penting dari ekosistem pembelajaran digital yang sehat.
Harapannya, digitalisasi tak berhenti pada perangkat dan jaringan, tetapi tumbuh menjadi ekosistem pengetahuan yang hidup: guru yang terlatih, murid yang melek teknologi, dan orang tua yang terlibat. Seperti ditulis World Bank (2025), keberhasilan pendidikan digital bergantung pada tiga hal: connectivity, competency, and continuity—keterhubungan, kapasitas, dan keberlanjutan.
Indonesia kini berada di persimpangan penting. Bila mampu menjembatani kesenjangan digital tanpa kehilangan kualitas pembelajaran, maka transformasi ini bukan sekadar proyek teknologi, melainkan jembatan menuju keadilan sosial. Karena pada akhirnya, teknologi hanyalah sarana; manusialah yang menentukan arah langkahnya.