Satu Tahun Pendidikan Berdampak: Menenun Akses, Mutu, dan Kesetaraan
Aolia-Dok Pribadi-
Guru dan Murid: Jiwa yang Menyalakan Denyut Reformasi
Di tengah gegap gempita pembangunan dan digitalisasi, ruh sejati pendidikan tetap bertumpu pada manusia—guru dan murid. Mereka bukan sekadar penerima kebijakan, tetapi penggerak perubahan yang menyalakan denyut reformasi dari ruang kelas paling kecil di desa hingga sekolah besar di kota.
Pemerintah menempatkan guru di garis depan perubahan dengan alokasi Rp13,2 triliun untuk peningkatan kompetensi dan kesejahteraan. Lebih dari 785 ribu guru non-ASN kini menerima tunjangan profesi Rp2 juta per bulan, 253 ribu guru PAUD nonformal mendapat BSU Rp300 ribu, dan 804 ribu guru mengikuti Program Profesi Guru (PPG) sebagai langkah menuju profesionalisme berkelanjutan.
Tak berhenti di sana, 16.197 guru mendapat fasilitasi kuliah lanjutan ke jenjang S1/D4, membuka ruang karier dan kualitas pembelajaran yang lebih tinggi. Sejak Agustus 2025, insentif tambahan Rp2,1 juta disalurkan selama tujuh bulan untuk guru non-ASN—sebuah penghargaan atas dedikasi mereka yang menjaga nyala belajar di tengah keterbatasan.
Sementara bagi guru ASN, DAK Nonfisik Rp70 triliun disalurkan melalui tiga skema utama: Tunjangan Profesi Guru (TPG) bagi 1,52 juta penerima, Dana Tambahan Penghasilan (DTP) bagi 332 ribu guru, dan Tunjangan Khusus Guru (TKG) untuk 62 ribu pendidik yang bertugas di wilayah 3T.
Dampaknya mulai terasa. Banyak guru kini mengeksplorasi media ajar digital, memanfaatkan papan interaktif, dan mengadopsi metode project-based learning yang menumbuhkan kreativitas murid. Di Banyumas, misalnya, guru menggunakan platform video sederhana untuk menjelaskan konsep sains; di Fakfak, pelatihan daring menjadi wadah saling belajar lintas provinsi.
Namun di balik optimisme itu, tantangan tetap menghantui. Survei Balitbang Kemendikbud (2025) mencatat, 42% guru di wilayah timur masih mengalami hambatan sinyal saat pelatihan daring, dan 37% guru mengaku beban administratif menyita waktu reflektif untuk berinovasi di kelas. Pengamat pendidikan Najeela Shihab mengingatkan, “Guru perlu ruang aman untuk bereksperimen, bukan hanya ruang untuk mengisi formulir.” Tanpa kebebasan berpikir dan waktu untuk berkreasi, kesejahteraan finansial tak akan bermakna banyak.
Sementara di sisi murid, keadilan akses juga diperjuangkan. Program Indonesia Pintar (PIP) telah menjangkau 18,5 juta peserta didik dengan pagu Rp13,5 triliun, sementara Beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) senilai Rp127 miliar membantu 4.679 siswa 3T agar tetap bersekolah. Di sisi lain, Program Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) menyalurkan Rp59,3 triliun untuk 422.106 sekolah dan lebih dari 50 juta siswa, memastikan kegiatan belajar tidak menjadi beban bagi keluarga.