Satu Tahun Pendidikan Berdampak: Menenun Akses, Mutu, dan Kesetaraan
Aolia-Dok Pribadi-
Wakil Wali Kota Batu, Henry Suyanto, menegaskan, “Pendidikan bukan soal angka, tapi urusan masa depan dan peradaban. Kemajuan kota bukan diukur dari tinggi gedungnya, tetapi dari semangat belajar anak-anaknya.” Pernyataannya menggambarkan filosofi dasar pembangunan pendidikan yang inklusif: bahwa keberhasilan pendidikan bukanlah statistik, tetapi perubahan hidup yang dirasakan masyarakat.
Program ini juga menyentuh dimensi inklusi. Dalam bidang Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK), revitalisasi menjangkau 1.943 satuan pendidikan—hampir dua kali lipat dari target awal. Capaian ini menandai pergeseran paradigma: dari pendidikan yang seragam menjadi pendidikan yang menghargai keberagaman kemampuan peserta didik.
Namun, di balik capaian tersebut, refleksi tetap perlu dihadirkan. Laporan Balitbang Kemendikbud (2025) mencatat bahwa meski 78% sekolah penerima bantuan mengalami peningkatan kenyamanan belajar, hanya 52% guru yang merasakan perubahan signifikan dalam metode pengajaran.
Artinya, revitalisasi fisik belum otomatis menghidupkan semangat pedagogi. Banyak guru di daerah masih bergulat dengan keterbatasan akses pelatihan, minimnya perangkat digital, dan tekanan administratif. Tanpa perubahan pada aspek manusia—guru, murid, dan komunitas—sekolah baru hanya menjadi bangunan sunyi dengan cat yang segar tapi jiwa yang lama.
Meski begitu, optimisme tumbuh. Di berbagai daerah, sekolah mulai menjadi ruang publik yang hidup kembali. Anak-anak datang lebih pagi, halaman sekolah kembali ramai, dan guru mulai berani bereksperimen dengan metode baru.
Menyatukan Akses, Menjembatani Jurang Pendidikan Di Indonesia
Jika revitalisasi membangun tubuh sekolah, maka digitalisasi menanamkan jiwanya—membuka akses pengetahuan tanpa batas ruang dan waktu. Tahun 2025 menjadi momentum penting ketika pemerintah melalui Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 memperluas pembelajaran digital ke lebih dari 285.000 satuan pendidikan, dari PAUD hingga SKB.
Kini, ruang belajar tak lagi berhenti di papan tulis. Di Papua, televisi pendidikan lokal menjadi ruang belajar bersama; di Kalimantan Utara, radio komunitas menyiarkan pelajaran sore; sementara di Sulawesi Tengah, siswa pedalaman kini mengakses Kurikulum Merdeka lewat tablet sederhana.