Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Kurikulum Merdeka: Metamorfosis Kepompong Pendidikan Indonesia

Irsyadinnas.-Dok Pribadi-

Yang tidak kalah menyedihkan lagi, kurangnya mekanisme feedback yang efektif dari implementasi lapangan ke level kebijakan. Ketika guru mengeluh tentang beban administratif yang justru meningkat dengan sistem baru, suara mereka tenggelam dalam hiruk-pikuk seminar dan workshop yang lebih fokus pada sosialisasi daripada evaluasi kritis.

 

Paradoks Evaluasi: Mengukur yang Tak Terukur.

Kurikulum Merdeka 2025 dengan penekanan pada deep learning menghadapi paradoks evaluasi yang mendasar. Di satu sisi, kurikulum menekankan pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kolaborasi. Di sisi lain, sistem evaluasi masih didominasi oleh instrumen asesmen yang bersifat baku.

 

Asesmen Nasional, meskipun diklaim sudah berevolusi dari Ujian Nasional, masih menggunakan format yang tidak mampu mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi secara komprehensif. Bagaimana mengukur kreativitas siswa dalam memecahkan masalah kompleks melalui soal pilihan ganda? Bagaimana menilai kemampuan kolaborasi melalui tes individual?

 

Kesenjangan Struktural: Masalah yang Jarang Tersentuh.

Fokus pada reformasi kurikulum sering mengabaikan masalah struktural yang lebih mendasar. Bagaimana menerapkan pembelajaran berdiferensiasi yang menjadi jantung Kurikulum Merdeka dalam kondisi rasio guru-siswa yang tidak ideal?

 

Persoalan distribusi guru juga tidak pernah terselesaikan secara sistemik. Beberapa daerah mengalami surplus guru, sementara daerah lain kekurangan drastis. Mobilitas guru lintas daerah terhambat regulasi daerah yang protektif dan sistem remunerasi yang tidak menarik. Akibatnya, sekolah di daerah terpencil harus mengandalkan guru kontrak dengan kualifikasi seadanya.

 

Aspek infrastruktur juga terasa diabaikan dalam euforia reformasi kurikulum. Masih cukup banyak sekolah yang belum memiliki perpustakaan yang memadai, laboratorium sederhana, atau akses internet yang stabil. Bagaimana menerapkan deep learning yang memerlukan akses sumber belajar yang kaya dalam kondisi infrastruktur yang minim?

 

Filosofi Air: Mengalir Dalam, Mengakar Kuat

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan