Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Kurikulum Merdeka: Metamorfosis Kepompong Pendidikan Indonesia

Irsyadinnas.-Dok Pribadi-

Lao Tzu pernah berkata, "Air adalah yang paling lembut, namun dapat mengalahkan yang paling keras." Inilah esensi dari pendalaman pembelajaran (deep learning) dalam Kurikulum Merdeka 2025. Seperti air yang tidak hanya mengalir di permukaan, tetapi meresap ke dalam tanah hingga mencapai akar-akar terdalam, pembelajaran mendalam tidak berhenti pada lapisan kognitif superfisial.

 

Namun, meskipun data menunjukkan bahwa antara tahun 2021 ke 2023, satuan pendidikan yang menerapkan Kurikulum Merdeka mengalami peningkatan skor literasi dan numerasi yang lebih tinggi dibanding sekolah lain, implementasi deep learning menghadapi tantangan mendasar dalam konteks Indonesia.

 

Konsep ini memerlukan guru yang tidak hanya menguasai konten, tetapi juga memahami pedagogi konstruktivis, psikologi perkembangan, dan teknologi pembelajaran. Realitasnya, masih banyak guru yang kesulitan mengintegrasikan ketiga aspek ini dalam praktik pembelajaran sehari-hari.

 

Kepemimpinan Pendidikan

Salah satu akar masalah yang jarang dibahas adalah krisis kepemimpinan di level sekolah. Banyak kepala sekolah yang masih berpikir sebagai administrator, bukan sebagai pemimpin pembelajaran. Mereka lebih fokus pada kelengkapan administratif daripada peningkatan kualitas pembelajaran di kelas.

 

Dalam kondisi seperti ini, transformasi Kurikulum Merdeka hanya menjadi formalitas belaka. Guru tidak mendapat dukungan yang memadai untuk mengembangkan kompetensi pedagogis, siswa tidak mendapat pengalaman belajar yang bermakna, dan sekolah tetap beroperasi dalam modus survival daripada growth. Lebih kritis lagi adalah sistem rekrutmen kepala sekolah yang masih bias pada senioritas dan kedekatan politik, bukan pada kompetensi kepemimpinan pembelajaran. 

 

Perlawanan Tersembunyi

Yang paling berbahaya dari implementasi Kurikulum Merdeka adalah resistensi tersembunyi (silent resistance) dari berbagai stakeholder. Guru yang tampak antusias dalam forum-forum resmi, namun di ruang kelas masih menggunakan metode lama. Orangtua yang mendukung di permukaan, namun di rumah masih menekan anak untuk fokus pada nilai ujian.

 

Resistensi ini tidak mudah diidentifikasi karena bersifat pasif. Tidak ada penolakan frontal, tidak ada protes terbuka, tetapi perubahan substantif tidak terjadi. Guru masih mengajar dengan paradigma transfer pengetahuan, siswa masih belajar dengan pola menghafal, dan sekolah masih mengukur keberhasilan dari ranking nilai rata-rata.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan