Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Kurikulum Merdeka: Metamorfosis Kepompong Pendidikan Indonesia

Irsyadinnas.-Dok Pribadi-

 

Ilusi Teknologi: Solusi Tanpa Fondasi

Euforia digitalisasi pendidikan pasca-pandemi menciptakan ilusi bahwa teknologi adalah obat mujarab. Platform Merdeka Mengajar, aplikasi pembelajaran digital, dan berbagai tools teknologi lainnya diluncurkan dengan gembar-gembor besar. Namun, realitas di lapangan menunjukkan paradoks yang menyakitkan.

 

Berbagai studi nasional dan internasional memperlihatkan bahwa Indonesia telah lama mengalami krisis dan kesenjangan pembelajaran. Pandemi COVID-19 yang telah berlangsung selama 2 tahun memperburuk krisis dan semakin melebarkan kesenjangan pembelajaran yang terjadi di Indonesia. Banyak anak-anak Indonesia yang mengalami ketertinggalan pembelajaran (learning loss).

 

Di tengah kondisi ini, adopsi teknologi justru menciptakan digital divide yang semakin menganga. Sekolah-sekolah di daerah terpencil masih berjuang dengan infrastruktur dasar—akses internet yang terbatas, dan guru yang belum melek teknologi. Sementara itu, sekolah-sekolah elite di perkotaan sudah berbicara tentang artificial intelligence (AI) dalam pembelajaran.

 

Lebih mendasar lagi adalah persoalan literasi digital guru. Banyak guru yang menggunakan teknologi hanya untuk keperluan administratif, bukan untuk menciptakan pengalaman belajar yang transformatif. Mereka menggantikan papan tulis dengan proyektor, namun metode penyampaian tetap satu arah dan monoton.

 

Arogansi Birokrasi: Reformasi dari Atas Tanpa Basis.

Salah satu kelemahan fatal dalam implementasi Kurikulum Merdeka adalah arogansi birokrasi pendidikan yang merancang perubahan dari menara gading tanpa memahami realitas di tingkat operasional. Tim perumus kurikulum jangan-jangan membuat asumsi-asumsi yang agaknya abai dengan realitas tentang kapasitas sekolah dan guru di lapangan.

 

Contoh konkret: konsep "pembelajaran berdiferensiasi" yang indah secara teoretis, namun mengabaikan fakta bahwa ada kelas masih diisi 35-40 siswa dengan fasilitas yang minim. Bagaimana guru dapat memberikan perhatian individual kepada setiap siswa dalam kondisi seperti ini? Bagaimana menerapkan pembelajaran berbasis proyek jika ruang kelas sempit dan tidak fleksibel?

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan