Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Guru Ngaji Kampung

Syabaharza-Dok Pribadi-

“Terserah Bapak lah.”

 

Kata-kata itu kembali terucap dari bibir sang istri. Sambil membuka mukena lusuhnya sang istri pergi ke arah dapur meninggalkan sang guru yang masih aktif dengan wiridannya. Ia merasa menemukan jalan buntu dalam meyakinkan sang guru. Bendera putih pun sudah dikibarkannya. Ia sudah pesimis mampu membongkar batu keangkuhan sang guru.

 

***

 

Siang hari itu cuaca sangat cerah. Sang guru dan istrinya duduk santai di teras rumah sederhana mereka. Sepiring singkong rebus hasil kebun menemani obrolan santai mereka. Asap kecil keluar dari singkong yang terlihat sangat empuk. Warna singkong yang kekuningan membangkitkan selera untuk segera menyantapnya. Dua gelas air putih menjadi teman sang singkong. Desiran angin seakan merestui suasana siang yang penuh cinta pasangan suami istri itu.

 

“Atau bapak berhenti saja jadi guru ngaji di kampung ini.”

Sang guru terkejut bukan main dengan statemen yang barusan diucapkan istrinya. Perkataan istrinya itu sungguh di luar perkiraannya. 

 

Ia tidak menyangka istrinya yang selama ini sabar mampu berkata seperti itu. Atau mungkin istrinya sudah habis kesabaran menghadapinya. Begitulah yang ada dalam benak sang guru saat itu. Tapi, walaupun terkejut, ia tetap berusaha sabar menghadapi sang istri.

 

“Tidak bisa seperti itu Bu.”

“Kalau bapak pensiun mengajar mengaji, kasihan anak-anak itu.”

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan