Guru Ngaji Kampung
Syabaharza-Dok Pribadi-
“Kalau Bapak malu, nanti Ibu yang akan berbicara.”
Sang istri tampaknya tidak menerima alasan sang guru.
“Jangan Bu, kita tunggu saja kesadaran dari orang tua mereka”
“Ya sudah terserah Bapak”
Sang istri berjalan menuju peraduan mereka. Ia meninggalkan sang guru yang masih setia dengan lampu petromaks yang sudah tidak bercahaya lagi karena kehabisan minyak. Peraduan mereka sangat sederhana, sebuah tikar purun yang tadi dipakai untuk pengajian anak-anak dijadikan alas. Selembar kain panjang sederhana dijadikan selimut, itu pun dipakai berdua dan dua buah bantal tanpa sarung dipakai sebagai pengganjal kepala agar tidak langsung menyentuh lantai.
Ditemani lampu pelita yang terbuat dari kaleng susu kental manis menemani sepasang suami istri yang bersahaja itu menuju mimpi mereka.
Lampu pelita dinyalakan karena jadwal lampu petromaks memang sudah berakhir. Jadwal kedua lampu itu memang sudah diatur oleh sang guru dan istrinya. Lampu petromaks bertugas ketika pengajian berlangsung, sedangkan lampu pelita bertugas setelah pengajian selesai.
Sehingga pekerjaan lampu pelita akan lebih lama dibanding lampu petromaks. Sang guru dan istrinya menganggap memakai lampu pelita akan mengefisiensikan pengeluaran mereka dalam hal pembelian minyak, karena lampu pelita lebih sedikit meminum minyak.
***