Guru Ngaji Kampung
Syabaharza-Dok Pribadi-
Sang guru masih berusaha meyakinkan istrinya.
“Anak-anak itu pasti akan menjadi liar kembali, jika tidak diajari agama.”
Sang istri masih belum menerima alibi sang guru. Sang istri masih diam dan masih dengan muka cemberut.
Dahulu anak-anak di kampung itu terkenal dengan kenakalannya. Tawuran dan perkelahian sering terjadi. Untuk menghentikan hal itu sang guru mengusulkan kepada orang tua untuk memberikan pelajaran ilmu agama sambil mengaji.
Tujuan sang guru adalah untuk meminimalkan adanya anak-anak yang berkeliaran pada waktu magrib dan tawuran tadi. Pengajian yang diinisiasi sang guru itu tidak ada imbalan serupiah pun. Hal itulah yang membuat sang guru merasa malu jika sekarang hendak meminta biaya kepada orang tua mereka.
“Insya Allah ada saja rezeki kita, Bu.”
Sambil memegang tangan istrinya, sang guru meyakinkan kembali istrinya.
“Ibu kasihan sama Bapak.”
Terlihat mata istrinya berkaca-kaca. Butir-butir air tidak terasa keluar dari matanya. Air mata ketulusan sang istri untuk sang suami tercinta. Air mata penuh kasih sayang untuk suaminya tercinta.
“Sudahlah Bu, Bapak ikhlas kok.”