Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Guru Ngaji Kampung

Syabaharza-Dok Pribadi-

“Jika menunggu kesadaran dari orang tua mereka, sama saja seperti pungguk merindukan bulan pak”

Setelah salat subuh, sang istri kembali menyambung obrolan mereka semalam. Sang istri masih berharap sang guru berubah pikiran dan mau menerima usulannya tadi malam.

 

“Mereka itu bagaikan buah yang harus dijolok dahulu baru jatuh.”

“Kalau kita diam saja, maka mereka juga pura-pura tidak tahu.”

 

Sang guru masih diam seribu bahasa. Jemarinya masih aktif memutar benda bulat yang dirangkai sambil bibirnya terus bergerak. Kopiah hitam yang warnanya sudah mulai kecokelatan menghiasi kepalanya, menutup sebagian rambutnya yang mulai memutih. 

 

Baju koko dan sarung kotak-kotak semakin menasbihkan bahwa ia memang guru ngaji. Sajadah berwarna merah yang dibelinya beberapa tahun lalu masih tergelar dengan rapi. Kekusukan sang guru dalam berzikir seperti tidak bisa diganggu oleh celoteh istrinya. 

 

“Bapak dengar dak sih apa yang Ibu katakan?”

Kali ini sang istri menaikkan volume suaranya. Ia tampak sangat kesal melihat gesture sang guru yang tetap bergeming. Ia merasa dongkol karena sang guru sama sekali tidak memberikan jawaban walau sekata pun.

 

“Pak, coba sekali-kali dengarkan usulan Ibu.”

Sang guru masih tetap kaku di tempatnya. Sang guru seolah tidak mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan