Mereka Lebih Membutuhkan

Mereka Lebih Membutuhkan

Jumat 05 Jun 2026 - 16:26 WIB
Reporter : Admin
Editor : Budi Rahmad

Prosesi pemotongan dan pembersihan daging kurban telah dilaksanakan. Panitia terlihat sibuk memasukkan daging yang sudah dicincang kecil-kecil ke dalam plastic berwarna merah. Semua panitia terlihat profesional dalam bekerja. Mereka seperti sudah tahu jobdesk masing-masing. Ada yang memasukkan daging ke plastik, ada menimbangnya, ada yang memasukkannya ke keranjang dan ada yang siap membagikan.

 

Kerumunan massa sudah berbaris dengan tertib menunggu nama mereka dipanggil untuk mendapatkan jatah daging kurban. Panitia bagian pendataan sudah siap dengan buku besar di tangannya. Buku yang berwarna hijau itu berisi nama-nama orang yang berhak mendapatkan daging kurban. Berbagai kriteria ditetapkan panitia kepada yang berhak mendapatkan daging kurban. Luar biasanya, walau berdesak-desakan warga kampung itu tetap tertib antre menunggu giliran dipanggil. 

 

Satu persatu nama dipanggil maju mengambil sekantong daging kurban. Begitulah seterusnya. Pak Mus dan anaknya masih menunggu giliran dipanggil dengan perasaan cemas. Walaupun tadi memiliki keyakinan, namun wajah keduanya tidak bisa berbohong bahwa kekhawatiran masih bersemayam dalam dada mereka. Mereka takut kejadian tahun-tahun sebelumnya akan terulang. Kecemasan mereka bertambah menjadi-jadi tatkala orang yang mengantre sudah mulai sedikit dan di keranjang juga terlihat daging kurban mulai menipis. Mereka mulai pasrah dan siap menerima apa pun hasilnya nanti.

 

Bungkusan daging kurban hanya tinggal satu dalam keranjang. Pak Mus dan anaknya semakin berdebar, tapi mereka masih tetap berharap bungkusan terakhir itu adalah milik mereka. Mereka menunggu nama mereka dipanggil dan disuruh mengambil plastik terakhir itu.

 

“Pak Mus.”

“Alhamdulillah,” kalimat syukur itu keluar dari mulut Pak Mus dan anaknya. Wajah mereka yang tadinya sudah pucat kembali berdarah. Apa yang diidam-idamkan mereka selama ini akhirnya bisa terwujud. Sang anak terlihat yang paling bahagia, betapa tidak sudah lama ia menginginkan makanan yang berasal dari daging kurban.

 

***

 

Pak Mus dan anaknya bergegas pulang ke rumah. Jalan mereka terasa sangat nyaman, tidak ada lagi rasa lelah. Tangan mereka saling bergandengan. Di tangan kiri sang anak ada sebuah plastik yang berisi daging kurban. Daging kurban yang mengalahkan emas dan berlian. 

 

Setelah berjalan lebih kurang sepuluh menit, sampailah mereka di rumah. Istri Pak Mus sudah menyambut dengan senyum yang paling manis. Sang anak berhambur memeluk ibunya.

Tags :
Kategori :

Terkait