“Jadi…kalau boleh saya mau meminta jatah daging kurban yang kau bawa itu”
Tanpa malu-malu, sepupu Pak Mus mengutarakan niatnya sambil menunjuk kantong plastik di tangan anak Pak Mus.
Pak Mus sesaat menjadi orang bisu, tidak bisa berkata apa-apa.
Pandangannya hanya tertuju kepada sang anak. Ia bagai menghadapi buah simalakama. Di sisi lain yang datang adalah sepupunya dan membutuhkan daging kurban, di sisi lain daging kurban yang baru saja didapatkannya adalah harapan sang anak yang sudah lama diidam-idamkan.
Mengetahui posisi ayahnya sedang terjepit, sang anak mendekati Pak Mus kemudian berbisik.
“Berikan saja daging kurban ini kepada Paman,” kata anaknya.
Mendengar bisikan sang anak, pak Mus terkejut bukan main.
“Tapi, bagaimana dengan kamu?” Pak Mus meyakinkan sang anak akan keputusannya itu.
“Tidak apa-apa yah, mungkin mereka lebih membutuhkan.”
Kata-kata terakhir dari sang anak itu membuat pak Mus tidak bisa berbicara lagi. Yang timbul sekarang rasa bangga terhadap anak semata wayangnya itu. Ternyata anaknya sudah meneladani apa yang diajarkannya selama ini.
***