Budeng
Rusmin Sopian.-dok-
Cerpen Rusmin Sopian
"Ka neh lah tekenek pelet orang bini penari tuh, sehingga Ka dak pacak agik ngelupak die. Jadi budeng."
Suara sang Ayah menggelegar. Menghantam kuping Markudut, sang anak yang mematung duduk di kursi tamu rumah mereka. Sementara sang Ibu menatap tajam ke arah sang anak yang diam bak patung lilin.
Malam makin meninggi seiring cahaya rembulan yang mulai menaiki langit. Suara ayah dan ibunya pun makin meninggi seiring kekecewaan yang melanda hati mereka sebagai orang tua.
"Sebagai orang tue, kami bener-bener sangat kecewa nian ken sikap Ka. Sangat kecewa nian," ungkap sang ayah dengan nada suara berat berbalut kekecewaan yang mendalam.
"Ape yang Ka arep dari orang bini penari itu? Pacak Ka nue nian budeng ken orang bini penari itu?," sambung Ibunya.
"Ape Ka lah temaken ken gune-gune orang bini penari itu sehingga Ka lah nue nian budeng e ken die? Cube Ka mandik aik pelicek macem petuah orang tue duluk ," saran Ibunya.
Markudut tetap terdiam. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Mulutnya terkunci rapat. Bak koruptor yang tertangkap tangan oleh KPK yang tidak mau menjawab pertanyaan para jurnalis.