Budeng
Rusmin Sopian.-dok-
"Padahal muke e cikar. Juged e sangat lihai. Dak mungkin, dak de urang laki yang dak nek ken die" sambung teman Markudut lainnya.
"Atau.., jangan-jangan, urang bini penari itu yang dak nek nerimak cinta dari urang laki hekaban tuh," sahut teman Markudut lainnya sembari tertawa.
Markudut hanya terdiam mendengar celotehan kawan-kawannya. Jiwa mudanya menggelora. Dia mulai berangan-angan bisa menjadi orang yang dicintai penari itu. Ya, menjadi lelaki pilihan hati Sang Penari.
Impian Markudut tampaknya bukan sekedar angan-angan semata. Bukan sekedar mimpi di siang bolong yang panas membara. Bukan cerita Abunawas. Apalagi kelakar bak Buk Geriul.
Entah bagaimana ceritanya, usai menari di Pendopo Kecamatan malam itu, penari idola kaum pria itu meminta Markudut untuk mengantarnya pulang ke rumahnya.
Tawaran istimewa dari sang penari tersohor itu tidak disia-siakan Markudut. Semua mata memandang ke arahnya yang membonceng sang Penari meninggalkan Pendopo Kecamatan.
"Sungguh beruntung nian Markudut," ujar temannya.
"Mimpi ape kawan kite tuh semalem," sambung temannya yang lain.
"Malem ini mimang malemnya Markudut. Dak kanggo-kanggo ditolak kalau rezeki lah datang," ucap temannya yang lain.