Budeng
Rusmin Sopian.-dok-
Dan sejak malam itu pula , perseteruan dirinya dengan keluarganya yang sangat menentang hubungan dirinya dengan Marfuah dimulai. Hubungan dirinya dengan Marfuah bukan hanya mendapat tantangan dari Ayah dan ibunya semata.
Suara cibiran datang dari semua warga Kampung. Semua warga Kampung membicarakan hubungan dua anak manusia berbeda jenis itu. Seolah-olah dengan membicarakan kisah asmara antara sang penari dengan seorang anak muda, sejenak mereka melupakan kehidupan sehari-hari mereka yang makin teramat sulit.
"Dunio nek kiamat," ungkap Roi seorang warga Kampung saat beberapa para warga berkumpul di sebuah warung kopi yang terletak diujung Kampung.
"Mimangnya Ka lah dapet ciri-cirinya?," tanya seorang pengunjung warung kopi penuh tanya.
"Ape Ka pikir Markudut nek ken Marfuah bukan salah satu ciri dunio ini nek kiamat?," jawab Roi sembari menyeruput kopi.
"Ape salahnya kalau mereka bedue tuh nek kawin? Marfuah agek dayang. Markudut gek bujang." tanya pengunjung warung kopi yang memakai baju kaos bergambar calon Bupati.
"Dak de nian yang salah dengan hubungan orang tuh. Ini pe hanye soal kepantasan bae. Jarak umor mereka terlalu jaoh. Bak bumi ken langet. Marfuah itu pas e jadi ayuk Markudut . Bahkan Emaknya Markudut. Bukan calon laki e," jelas Roi.
Sontak, para pengunjung warung kopi terdiam mendengar penjelasan Roi.