“Mereka pasti sengaja dan aku yakin tahun ini pasti mereka lakukan lagi,” kata anak dengan yakin
Pak Mus mendekati sang anak lalu merangkulnya, berusaha untuk menenangkan jiwa muda sang anak yang sedang membara.
“Kita harus sabar ya, mungkin belum rezeki kita, dan mereka lebih membutuhkan”
“Tapi Yah…” Suara sang anak terputus, ia tidak bisa melanjutkan perkataannya. Ia memeluk tubuh sang ayah yang sudah renta itu. Tiba-tiba isak tangisnya menggema di mimbar musala itu.
Sang anak tidak bisa menahan kesedihannya. Dalam waktu sekian detik kedua ayah dan anak itu larut dalam pelukan hangat, mereka menumpahkan segala kesedihannya. Pak Mus juga menangis, hanya ia tidak mengeluarkan suara, hanya air mata yang perlahan terjun dari matanya membasahi pipinya yang mulai keriput.
“Sabar ya Nak, kalau memang rezeki kita, pasti nanti kita mendapatkannya,” kata Ayah.
Kembali Pak Mus memberikan belaian kasih sayang sekaligus menenangkan sang anak. Sang anak mengangguk pelan sambil sesekali suara tangisan masih keluar dari mulutnya. Sang anak tidak bisa berkata-kata lagi ketika sang ayah mengucapkan kata mereka lebih membutuhkan. Kata-kata itu seakan sudah mengungsi semua ucapan yang akan dikemukakannya.
***
Suasana salat Iduladha pagi itu sangat ramai. Tidak seperti biasanya musala penuh sesak bahkan sampai keluar musala, bahkan saf salatnya sampai di halaman. Panitia yang tidak siap terlihat gelagapan mempersiapkan tempat. Terpal-terpal bekas terpaksa dipakai sebagai alas untuk jemaah yang berada di halaman musala.