Dulang dan Tudung Saji (Bagian Dua)
Akhmad Elvian-screnshot-
Oleh: Dato’ Akhmad Elvian
Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia
PANGKAL Mapur yang awalnya merupakan pusat dari peradaban Mapur ditinggalkan oleh masyarakatnya karena pembakaran terhadap pangkal-pangkal penghasil Timah pada saat perlawanan atau perang rakyat Bangka yang dipimpin oleh Depati Amir (Tahun 1848-1851).
------------------
PARA pengikut setia Depati Amir adalah pejuang-pejuang dari Pangkal Mapur. Depati Amir adalah pejuang yang mampu mengkoordinasi dan membentuk pasukan dari berbagai etnis berbeda yang berasal dari Orang Darat pribumi Bangka, petani peladang, pekerja-pekerja tambang, Orang Laut pribumi Bangka (Orang Sekak), Orang Cina, termasuk wanita dan anak-anak. Di antara Pasukan Depati Amir tersebut adalah sekitar 50 orang berasal dari daerah Pangkal Mapur (ANRI, Laporan kolonial tertanggal 17 Januari 1851, No. A/19). Akibat pembakaran terhadap wilayah Pangkal Mapur, menyebabkan masyarakatnya pindah dan mendirikan kampung-kampung (gebong atau gabungan/himpunan beberapa marong) di hutan-hutan Benak, Air Abik, Pejem, Tuwing dan termasuklah menyebar ke wilayah pesisir Timur bagian Utara pulau Bangka di wilayah Tengkalat dan sungai Mendoelang.
Mendulang adalah aktivitas masyarakat menambang bijih bijih logam secara tradisional (dengan Teknik Pelubangan) dan kemudian memurnikan bijih bijih logam secara tradisional seperti Besi,Timah dan Emas di Sungai terdekat dengan menggunakan peralatan Dulang. Aktivitas menambang bijih logam seperti Besi, Timah dan Emas menggunakan Dulang melahirkan bagian pribahasa, “dak nyaman di tulang”, maksudnya aktivitas mendulang adalah pekerjaan berat yang memerlukan tenaga ekstra dan memeras keringat, akan tetapi dari aktivitas mendulang akan menghasilkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi Masyarakat melahirkan bagian pribahasa “nyaman di dulang”, terutama ketika fungsi dulang diubah dari peralatan teknologi penambangan tradisional menjadi alas untuk meletakkan sesajian atau jenis makanan yang agung dan mulia. Padanan Dua aktivitas melahirkan pribahasa yang saling imbal dan balas yang interlocking atau padanan yang bijaksana yaitu “Dak Nyaman di Tulang, Nyaman di Dulang”.
Di samping mendulang logam untuk “upeti” dan untuk “mata gawe” serta untuk “mata pencaharian”, penduduk asli pulau Bangka (Bankanese) yang tinggal di kampung-kampung pulau Bangka sering disebut dengan Orang Darat atau Orang Gunung (hill people), juga melakukan aktivitas utama kesehariannya adalah berladang atau berume (food producing). Orang Darat Bangka adalah pendukung utama kebudayaan yang berbasis pada daratan atau land base culture. Menurut Residen Inggris untuk Palembang dan Bangka M.H. Court, orang Darat atau orang Gunung memiliki karakter dan sifat yang baik: “The character of the Orang Goonoongs, or natives of Banca, may be expressed in a few Words. They are an honest, simple, tractable, and obedient people; in personal appearance much more attractive than the same description of people at Palembang” (Court, 1821:214), maksudnya: karakter Orang Goonoongs (orang Gunung), atau penduduk asli pulau Bangka, dapat diekspresikan dalam beberapa kata. Mereka adalah orang yang jujur, sederhana, penurut, dan patuh; dalam penampilan pribadi jauh lebih menarik daripada orang yang sama di Palembang. Tampaknya M.H. Court membandingkan karakter orang Darat atau orang Gunung yang tinggal di pulau Bangka dengan orang-orang yang sama di daerah Palembang, terutama orang-orang yang tinggal di daerah Uluan Palembang. Pendapat M.H. Court ini setidaknya dapat dijadikan sebagai ciri atau karakter umum dari orang Bangka. Sebutan orang Darat atau orang Gunung, lebih ditujukan untuk membedakan dengan penduduk asli pulau Bangka Orang Laut/Orang Sekak atau Pengembara Laut (sea dweller) yang tinggal mengelompok atau bergerombol dalam 4 hingga 5 perau (perahu lipat kajang sering disebut gobang atau sering juga disebut lepa) dan hidup berpindah-pindah dari pulau-pulau kecil, gosong, selat, tanjung dan teluk serta mereka menjadi pendukung utama budaya yang berbasis pada bahari atau laut atau Sea base culture.
Orang Darat atau orang Gunung pribumi Bangka di samping kehidupannya berladang atau berume, mereka juga mencari dan mengumpulkan hasil-hasil hutan seperti madu, lilin, damar, rotan, kemenyan, gaharu, opih Pinang dan kayu wangi. Hasil-hasil hutan tersebut di samping untuk dikonsumsi oleh rumah tangga keluarga batih, juga untuk ditukarkan dengan kain atau pakaian kasar, garam dan kebutuhan pokok lainnya. Perempuan-perempuan orang Darat pribumi Bangka di samping bekerja di Ladang atau Ume, mereka juga menghasilkan barang-barang kerajinan tangan (kriya) berupa anyaman untuk peralatan bekerja, peralatan rumah tangga serta untuk peralatan upacara adat seperti Tudung Saji. Awalnya bentuk Tudung saji adalah penutup makanan yang pembuatannya dengan dianyam (berbahan daun mengkuang atau sejenisnya) dan bentuknya beragam serta tidak berwarna seperti sekarang. Pengrajin anyaman tudung saji masih sedikit tersisa saat ini salah satunya ada di wilayah Bangka Selatan.
Tudung Saji di pulau Bangka digunakan dalam tradisi "Nganggung" berasal dari akar kata atau etimologi "Ngang", yang berarti "ngangkat" atau "ngangkut" dan akar kata "Gung": yang berarti "agung" atau "mulia". Diangkat artinya ditinggikan dengan dua tangan atau dengan ditayak. Jadi Nganggung berarti mengangkat sesuatu yang agung atau mulia dari "Panggung”, berasal dari akar kata "Pang", yang berarti tempat dan "Gung" yang berarti "agung atau mulia" (rumah Panggung, sering disebut dengan sebutan marung atau disebut juga pangkul). Penganan atau hidangan atau makanan yang diangkat berupa makanan terbaik untuk disajikan kepada yang agung dan mulia dan makanannya diletakkan di atas dulang serta ditutup dengan tudung saji. Oleh sebab itu di Bangka dikenal pribahasa: “bagai dulang dengan tudung saji” yang bermakna sesuatu yang berpadanan dengan selaras dan serasi. Makanan yang dianggung atau diangkat dan ditutup dengan tudung saji terdiri atas “Sedulang Cerak” yang bermakna satu dulang berisi makanan (nasi dari beras darat atau beras ume atau sering disebut beras mirah) dengan aneka lauk pauknya dan “Sedulang Ketan” berisi beraneka jenis kue terbuat dari beras ketan, atau orang Bangka menyebutnya pulut.
Kegiatan Nganggung di pulau Bangka awalnya dari aktivitas berladang berpindah atau beume, yaitu pada kegiatan Ngetep Nasik Baru berupa proses menyiapkan makanan dari hasil panen pertama yang disebut nasi baru putik hari pertama. Sebagai lauk pauk biasanya berupa ikan dalam sangkar yaitu ikan Tapa, ikan Kelesak (arwana), ikan Baung, ikan Kiung, ikan Arun, Udang Galah (udang Satang), hasil buruan binatang seperti daging Pelanduk, daging Napo, daging Kijang dan daging Rusa. Ngetep Nasik Baru sering juga disebut dengan ”Ngembaruk” atau upacara mengkonsumsi nasi baru dan menjadi hari raya di kampung dalam mensyukuri keberhasilah panen padi. Ngembaruk merupakan cikal bakal dari kegiatan Nganggung di pulau Bangka. Upacara syukur panen padi atau ngembaruk hampir dilaksanakan di kampung pulau Bangka dengan nama yang beragam misalnya nujuh jerami, murok jerami (tapi bukan dilakukan di sawah seperti di Namang saat ini karena uji coba penanaman padi sawah baru dilakukan di Bangka Tahun 1851, kemudian dimulai lagi tahun 1907 sementara penanaman padi ladang dan berbagai aktivitas upacaranya sudah berlangsung lama), ceriak nerang, dan kalau di Belitung dikenal dengan sebutan Maras Taun. Matapencaharian hidup yang utama masyarakat di pulau Bangka adalah berladang padi atau beume. Hampir semua rumah tangga keluarga batih di Bangka melaksanakan pertanian padi secara berladang beume berpindah dan memperoleh bahan kebutuhan pangan utama dari hasil usaha berladang dan beume. Padi merupakan jenis tanaman yang terpenting dan menjadi bahan pangan utama. Padi memiliki peran sentral dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Masa tanam, pertumbuhan dan saat panen padi menjadi wahana penting dalam berbagai aspek interaksi sosial dan membentuk budaya masyarakat Bangka. Sangatlah wajar pada tiap tahapan aktivitas berladang dan berume diupacarakan dan banyak ritus dan adat istiadat di Bangka yang berhubungan dengan aktivitas berladang dan berume..
Tudung Saji berasal dari dua kata yaitu kata “Tudung” dan kata “Saji”. Kata Tudung berakar dari "Tu" dan "Dung", "Tu", berarti Tuah atau bertuah sedangkan "dung", atau "udung" berarti "penutup". Tudung artinya penutup sesuatu yang memilki tuah atau daya kodrati yang baik atau sesuatu yang terbaik yang agung dan mulia. Sedangkan kata "Saji" berasal dari kata "sesajian" atau "sajian" yaitu makanan untuk sesuatu yang agung dan mulia serta yang terbaik.
Keberadaan Tudung saji sebagai identitas budaya dan peralatan budaya di Bangka dikelompokkan pada keradjinan rumah, bersama dengan kopiah/songkok resam, anyaman tikar, sapu, dll. Dalam buku Naskah Perdjoangan Propinsi Bangka-Belitung, tahun 1969, halaman 35 dinyatakan: “Daerah Bangka Belitung dalam bentuk Propinsi akan lebih mudah mengadakan Pembangunan ekonomi regional dan nasional, dan keseimbangan antara kewibawaan Pemerintah dengan modalnja disatu pihak dan kemadjuan serta perkembangan indusri dilain pihak akan mudah pula tertjapai. Banjak industri rakjat jang dapat dikembangkan dengan penambahan moddal, a.l. industri penggergadjian kaju; pilot projek tenun tangan Bangka; keradjinan rumah (tudung sadji, kopiah resam, anjaman tikar, sapu dll) perusahaan keramik/porselin dan industri makanan dan minuman”.(Habis/***)