Saatnya Pendidikan Islam Memimpin Literasi–Numerasi
Aziz Saleh.-Dok Pribadi-
AN bukanlah garis akhir, melainkan titik awal dari rangkaian panjang evaluasi pendidikan. Ketika kemampuan dasar siswa—terutama literasi dan numerasi—masih rapuh, seluruh tahapan asesmen berikutnya akan ikut terganggu. Hal ini terlihat jelas pada Tes Kompetensi Akademik (TKA), yang menuntut kemampuan analisis kuantitatif dan penalaran verbal. Kelemahan numerasi yang muncul di AN hampir pasti berulang dalam skor TKA, bukan karena soalnya lebih sulit, tetapi karena fondasi berpikir logis tidak pernah benar-benar terbentuk sejak jenjang awal.
Dampaknya juga terasa pada Imtihan Wathani, ujian nasional pesantren yang mengukur penguasaan kitab kuning. Ujian ini menuntut kemampuan membaca teks, memahami struktur kalimat, menafsirkan argumen, dan menarik kesimpulan secara tepat—semua membutuhkan literasi tingkat tinggi. Pada materi tertentu seperti fikih dan hisab, numerasi bahkan menjadi bagian integral. Ketika kemampuan dasar ini melemah, kedalaman pemahaman kitab pun terhambat, dan proses tafaqquh fid-din tidak dapat berlangsung optimal.
Dengan demikian, rendahnya literasi dan numerasi bukanlah isu yang hanya melekat pada sekolah umum. Ia menjalar ke seluruh jenjang pendidikan Islam—madrasah hingga pesantren—dan menentukan kesiapan lulusan dalam menghadapi tantangan zaman. Memperkuat fondasi ini bukan sekadar urusan teknis evaluasi, melainkan investasi strategis bagi masa depan pendidikan Islam di Indonesia.
Implikasi Global: PISA dan Reputasi Pendidikan Indonesia
Programme for International Student Assessment (PISA) menilai kemampuan siswa dalam menerapkan pengetahuan pada situasi baru. Indonesia masih lebih rendah dibandingkan rerata negara-negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang menjadi acuan standar global dalam literasi membaca dan matematika. Hasil AN yang stagnan membuat upaya peningkatan skor PISA semakin berat.
Madrasah mengelola sekitar seperlima peserta didik Indonesia. Pesantren memiliki jutaan santri aktif. Dengan populasi sebesar itu, kualitas pendidikan Islam sangat berpengaruh terhadap capaian pendidikan nasional secara keseluruhan. Jika ekosistem ini tidak diperkuat, maka peningkatan skor PISA akan sulit dicapai.
Langkah Strategis bagi Pendidikan Islam
Pendidikan Islam berada pada posisi strategis untuk mendorong peningkatan kualitas pendidikan nasional. Namun untuk bergerak maju, madrasah dan pesantren tidak cukup hanya mengandalkan retorika perubahan. Mereka membutuhkan langkah konkret yang menyentuh inti persoalan: kemampuan dasar literasi dan numerasi yang menjadi pondasi seluruh proses belajar. Di sinilah pentingnya pendekatan integratif, di mana pembelajaran agama tidak dipisahkan dari kecakapan dasar tersebut. Fikih waris, misalnya, mengasah numerasi; sementara tafsir menuntut kemampuan literasi tingkat tinggi.
Kualitas guru menjadi faktor paling menentukan. Selama ini pelatihan guru sering berlangsung secara seremonial tanpa dampak nyata di kelas. Karena itu, peningkatan kompetensi guru harus dilakukan melalui pelatihan aplikatif, praktik langsung, dan pendampingan yang berkelanjutan. Pendekatan coaching jauh lebih relevan dibanding seminar massal. Guru yang kompeten akan menjadi motor peningkatan kualitas pembelajaran, termasuk dalam memaknai hasil Asesmen Nasional sebagai dasar perbaikan.