Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Saatnya Pendidikan Islam Memimpin Literasi–Numerasi

Aziz Saleh.-Dok Pribadi-

Aziz Saleh, ST. M.Si (Kasubtim pada Bagian Data, Sistem Informasi dan Humas Setditjen Pendis)

 

Hasil Asesmen Nasional (AN) terbaru kembali memunculkan kegelisahan lama yang belum juga terjawab: rendahnya kemampuan literasi dan numerasi peserta didik Indonesia. Temuan ini bukan sekadar fluktuasi statistik, melainkan cermin yang memantulkan kondisi fundamental pendidikan kita. Dalam beberapa tahun, skor numerasi menunjukkan kecenderungan penurunan, sementara literasi hanya bergerak pelan.

 

Dalam diskursus publik, isu AN sering lewat begitu saja—dikomentari, diperdebatkan, lalu hilang. Namun bagi pendidikan Islam, terutama madrasah dan pesantren yang menampung jutaan peserta didik, hasil AN adalah alarm peringatan dini. Ia bukan sekadar potret saat ini, melainkan sinyal masa depan kualitas sumber daya manusia yang sedang kita bentuk.

 

Ketika Dasar Pendidikan Kita Rapuh

Penurunan numerasi bukanlah persoalan teknis atau sekadar akibat perubahan format soal. Ia menunjukkan kelemahan struktural: dari budaya belajar yang terlalu berpusat pada guru dan hafalan, hingga kurangnya ruang bagi siswa untuk bernalar dan memahami konteks. Numerasi seharusnya merupakan kemampuan membaca dunia melalui angka, pola, dan logika. Namun dalam banyak ruang kelas, matematika masih diperlakukan sebagai latihan meniru rumus, bukan proses memahami masalah.

 

Hal ini tidak berhenti pada sekolah umum. Dalam pendidikan Islam, khususnya madrasah, mata pelajaran umum sering kali tak mendapatkan ruang penguatan yang memadai dibanding mata pelajaran agama. Paradigma ini muncul seakan kemampuan membaca kitab bisa tumbuh tanpa literasi modern, atau kemampuan memahami konsep syariah dapat berjalan tanpa numerasi. Padahal, kitab turats justru kaya dengan struktur logika, hitungan faraidh, dan penalaran deduktif—yang semuanya membutuhkan kemampuan literasi dan numerasi yang kuat.

 

Di banyak pesantren, budaya membaca kitab kuning sangat kuat. Namun tradisi literasi itu kerap tidak diterjemahkan ke dalam kemampuan membaca teks non-keagamaan, memahami data, atau menganalisis persoalan kontemporer. Inilah titik yang jarang dibicarakan: literasi kitab tidak selalu berbanding lurus dengan literasi modern.

 

Dampak Sistemik: Dari AN ke TKA dan Imtihan Wathani

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan