Saatnya Pendidikan Islam Memimpin Literasi–Numerasi
Aziz Saleh.-Dok Pribadi-
Selain itu, ekosistem evaluasi pendidikan Islam perlu diselaraskan. Hasil AN tidak boleh berhenti sebagai laporan, tetapi harus menjadi pijakan untuk mempersiapkan siswa menghadapi Tes Kompetensi Akademik (TKA) maupun Imtihan Wathani di pesantren. Ketiganya harus saling mendukung agar usaha peningkatan mutu berjalan konsisten dari hulu ke hilir. Upaya ini perlu diperkuat dengan penyederhanaan kurikulum. Materi yang terlalu padat membuat guru terjebak pada kejar tayang, alih-alih mendorong siswa menggunakan nalar secara lebih mendalam.
Pada akhirnya, penguatan budaya literasi harus menjadi agenda utama pesantren. Tradisi membaca kitab kuning adalah kekuatan besar, tetapi harus diperluas menjadi budaya literasi modern: membaca konteks sosial, sains, dan perkembangan zaman. Perpustakaan pesantren harus menjadi pusat belajar yang hidup, bukan sekadar ruang penyimpanan buku. Bila lima langkah strategis ini dijalankan dengan konsisten, pendidikan Islam bukan hanya menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional, tetapi juga lokomotif yang menggerakkan kualitas bangsa menuju masa depan yang lebih berdaya.
Pilihan Kita Menentukan Arah Masa Depan
Rendahnya literasi dan numerasi bukan sekadar masalah teknis pendidikan. Ia adalah persoalan masa depan bangsa. Jika kemampuan dasar ini tidak segera diperbaiki, maka generasi kita akan memasuki era global tanpa bekal nalar yang memadai.
Pendidikan Islam—dengan jumlah peserta didik yang besar dan pengaruh sosial yang luas—memiliki kesempatan besar untuk menjadi penggerak perubahan. Namun kesempatan itu hanya akan menjadi kenyataan jika pemangku kebijakan mengambil langkah berani, sistematis, dan terukur.
Saat ini, kita berada pada titik di mana pembenahan literasi dan numerasi bukan lagi pilihan, tetapi keharusan. Dan seperti halnya nasihat para pendidik bijak, masa depan tidak datang dengan sendirinya; ia dibentuk oleh keputusan yang kita ambil hari ini.(sumber kemenang.go.id dengan judul yan sama)