Mencadin
Ahmadi Sopyan-screnshot-
Oleh: AHMADI SOFYAN
Penulis Buku / Pemerhati Sosial Budaya
BEBERAPA tahun silam, saat menemani artis Ibukota, Ayu Azhari dan suaminya Vokalis White Lion, Mike Tramp, keliling Pulau Bangka, tiba-tiba mereka bertanya kepada saya: “What is menjadin?” kepada mereka saya jelaskan sambil keringatan karena lidah saya sangat kelu menggunakan bahasa si Bule, maklumlah saya lahirnya di kelekak dan dari rahim orang kelekak, karena memang berasal dari keluarga kelekak. “Bukan menjadin, tapi mencadin. Itu makhluk sebutan masyarakat kepada arwah gentayangan”.
***
MENCADIN, bagi masyarakat Bangka adalah cerita makhluk yang menakutkan karena dianggap sebagai arwah gentayangan yang keberadaannya tidak jelas, tidak diketahui, bahkan tidak pasti ada dan ketiadaannya. Karena sampai hari ini belum ada ceritanya orang menangkap, memelihara atau bahkan berternak Mencadin.
Oleh karenanya disini saya tidak ingin menjelaskan secara detail tentang Mencadin, namun lebih cenderung mengambil hikmah sederhana atau filosofi kecil dari sebutan mencadin yang wujuduhu ka adamihi (keberadaannya seperti ketiadaannya) alias antara ada dan tiada sama saja.
Orangtua kita dahulu menasehatkan: “Hidup hanya sekali, maka hiduplah yang berarti”. Sedangkan agama menasehatkan “khoirunnaas anfauhum linnaas” (sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain). Ini artinya bahwa hidup harus bermanfaat dan harus memiliki karakter sehingga memiliki arti bagi kehidupan orang lain. Harus menjadi inspirasi bagi orang lain terlebih generasi berikutnya. Kalaulah hidup hanya sekedar hidup, maka monyet, kucing, ayam, kambing dan binatang-binatang lainnya juga hidup. Disinilah salah satu letak perbedaan antara makhluk bernama manusia dengan binatang.
Jikalau hidup hanya sekedar hidup, bahkan keberadaan hanya menjadi momok bagi orang lain, menjadi masalah serta biang kerok kekisruhan, cerita yan menakutkan, maka apalah bedanya dengan arwah gentayangan yang disebut Mencadin oleh masyarakat Pulau Bangka. Bagi kepercayaan masyarakat Pulau Bangka, Mencadin itu makhluk yang sangat menyeramkan, menakutkan bahkan menjadi bahan untuk menakutkan orang lain seperti jenis hantu lainnya seperti Mawang, harus dihindari, keberadaannya bisa menimbulkan kekisruhan dan kekhawatiran dan energi-energi negatif lainnya.
Tentunya, bagi orang yang normal, berperilaku seperti Mencadin bukanlah pilihan, walau kadangkala tanpa disadari seringkali kita bersikap sebagaimana Mencadin. Menjadi biang masalah, kesohor (populer) namun tak bermanfaat bahkan menjadi mudharat, setiap ucapan dan tindakannya membuat orang lain khawatir, menakutkan dan lain sebagainya. Terlalu sering dalam kehidupan ini kita berlabel manusia (khalifah di muka bumi) namun pada kenyataannya tidak lebih dari sekedar hantu gentayangan. Jarang muncul, namun sekali nongol membuat masalah baru bagi lingkungannnya. Jarang muncul, namun sekali nongol langsung “ngeroh aek” sehingga ikan pada “nguntam” (ngapung) karena mabuk.
Nah, yang terakhir itu (Jarang muncul, sekali nongol langsung “ngeroh aek) umumnya pada musim-musim Pemilu dan Pilkada. Selama tak ada Pemilu dan Pilkada, hilanglah keberadaannya, tak ada kabar beritanya, tak ada aktivitasnya yang berarti, tak ada perbuatannya yang mampu menginspirasi, namun menjelang perhelatan ajang meraih kekuasaan, dirinya tiba-tiba nongol, datang bak sinterklas dan berbagai pemberitaan dikuasai. Selanjutnya selesai Pilkada, kemenangan tak mampu diraih, hilang pula keberadaannya seperti tak membekas. Inilah salah satu perilaku yang pantas disebut Mencadin, karena berperilaku seperti yang diungkapkan masyarakat Pulau Bangka: “Lep-lep ngol, kadang ngelep kadang nyengol”.
***
NAH, untuk meraih keberkahan hidup, kesuksesan yang sejati, kemenangan yang hakiki adalah dengan menjadi inspirasi bagi orang lain dalam berbuat kebaikan tanpa harus mencari musim yang tepat. Berbuat baik dengan pemberitaan tidak harus menunggu menjelang Pilkada, silaturrahim dengan masyarakat kelas bawah seraya membawa oleh-oleh tidak harus saat mau mencalonkan diri menjadi pejabat besar. Berani berkomentar kritis diberbagai media tidak harus menunggu wartawan disangoni karena hendak populer.
Hidup bermanfaat dan perilaku yang menginspirasi itu tidak usah disetting sedemikian rupa dengan wajah pencitraan yang memuakkan. Semua itu memiliki batas dan rasa (manusia tidak bisa dipaksakan oleh manusia lainnya. Berjalanlah apa adanya dan biarlah Tuhan saja yang menilai. Bersikaplah apa adanya jangan karena ada apanya.
Dari “Mencadin” kita belajar tentang hidup bahwa keberadaan kita tidak boleh menjadi biang kerok, biang rusuh dan mengkhawatirkan orang lain. Keberadaan kita hendaknya memberi manfaat bagi orang lain, walau hanya sekedar “pecak lampen” (percak bekas) dan do’a yang dipanjatkan. Dari “mencadin” kita belajar bahwa keberadaan kita dalam hidup hendaklah berarti, tidak bersifat wujuduhu ka adamihi (keberadaannya seperti ketiadaannya). Kalaulah tak mampu menjai pelopor, belajarlah terlebih dahulu walau harus jadi pengekor. Kalaulah tak mampu menjadi pejuang, hendaknya jangan menjadi pecundang. Kalaulah tak mampu berbuat kebaikan, setidaknya jangan menambah deretan keburukan.