Refleksi Gagasan dan Kepemimpinan HAS. Hanandjoeddin untuk Pendidikan
--
//Kepemimpinan Humanis dan Teladan Moral
Kepemimpinan Hanandjoeddin dikenal egaliter, tegas, tapi humanis. Ia turun langsung ke lapangan, menyapa warga, menyelesaikan konflik dengan dialog, dan tidak segan mendukung inisiatif rakyat kecil.
Model kepemimpinan seperti ini penting untuk ditanamkan di sekolah-sekolah saat ini. Mengapa? Karena kepemimpinan di sekolah saat ini terlalu sering meniru gaya “manajerial birokratis” yang kaku dan berjarak. Kepala sekolah lebih sibuk urusan administrasi daripada menjadi teladan. Guru terlalu dibebani target, lupa menjadi panutan moral. Padahal, jika kita mau menanamkan karakter kepemimpinan pada siswa, maka sekolah harus terlebih dahulu dipimpin oleh figur pemimpin berkarakter.
Di sinilah semangat Hanandjoeddin hidup kembali: seorang pemimpin yang memberi arah, bukan hanya aturan. Hanandjoeddin dikenal sebagai sosok pemberani, bahkan saat harus mengambil keputusan yang tidak populer. Di era penjajahan, ia memilih berdiri bersama rakyat walau bertaruh nyawa. Dalam pendidikan, keberanian adalah nilai yang kini mulai langka. Sistem pendidikan kita terlalu menekankan "kecerdasan", padahal keberanian mengambil sikap, menyuarakan kebenaran, dan membela yang lemah adalah fondasi kepemimpinan.
Anak-anak kita perlu dididik bukan hanya agar pintar, tapi juga berani dan berintegritas. Pendidikan ala Hanandjoeddin bukan hanya soal isi otak, tapi soal isi hati dan nyali. Sekolah seharusnya menjadi tempat melatih keberanian moral dan tanggung jawab sosial. Dan itu hanya bisa terjadi jika kita berani meninggalkan pola pikir pendidikan lama yang terlalu mengejar formalitas dan sertifikasi.
Apa gunanya ganti kurikulum tiap 5 tahun jika arah pendidikan tidak jelas? HAS. Hanandjoeddin tidak pernah bicara kurikulum dalam konteks teknis, tapi ia menunjukkan arah pendidikan yang sejati: membentuk manusia yang merdeka lahir dan batin. Sekolah masa kini seharusnya tidak lagi menjadi tempat menghafal, tapi tempat membangun arah hidup.
Mengajar bukan sekadar memindahkan pengetahuan, tapi membentuk kesadaran. Gagasan inilah yang menjadi ruh dari kepemimpinan Hanandjoeddin: mencerdaskan tanpa menjauh dari akar budaya dan nilai luhur bangsa.
Warisan gagasan dan kepemimpinan HAS. Hanandjoeddin bukan hanya untuk Belitung, tapi untuk Indonesia. Di saat pusat sibuk dengan jargon-jargon reformasi pendidikan, daerah seperti Belitung justru menyimpan teladan pendidikan yang autentik, sederhana, tapi bermakna. Kini saatnya kita belajar dari pemimpin lokal seperti Hanandjoeddin.