Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Sikok Bagi Limo: Parodi Politik di Tanah Serumpun Sebalai (2)

--

 

Keberanian mereka untuk tampil dalam gelanggang demokrasi patut diacungi jempol, mengingat risiko yang melekat baik selama masa kampanye, proses pemilihan, hingga tantangan besar yang menanti ketika kelak menjadi pemenang. Namun demikian, menjadi kampiun dalam kontestasi politik bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan justru awal dari tanggung jawab besar dalam mengelola pemerintahan dan memenuhi ekspektasi publik. 

 

Dalam konteks ini, analogi “lapis legit” menarik untuk direnungkan. Seperti halnya kue lapis legit yang tampak menggiurkan namun menyimpan bahaya jika dikonsumsi sembarangan dan berlebihan bagi penderita diabetes, kekuasaan juga menyimpan risiko yang tidak kecil. Bila tidak dijalankan dengan kehati-hatian, integritas, dan kompetensi, maka jabatan yang diperoleh justru bisa menjadi sumber krisis dan ketidak percayaan publik. 

 

Ironinya, di tengah tantangan birokrasi, fiskal yang terbatas, dan ekspektasi masyarakat yang tinggi, sering kali penyelesaian persoalan publik justru disederhanakan menjadi sekadar "dijogeti" atau didekati dengan humor politik. Padahal, kepemimpinan yang dihasilkan dari proses demokrasi membutuhkan kerja keras, dedikasi, dan komitmen moral yang tinggi. Jika tidak, para pemimpin tersebut berisiko menjadi bahan olok-olok dalam sistem demokrasi yang seharusnya bermartabat. Meski demikian, kita tetap harus optimistis. 

 

Kelima pasangan calon tersebut merupakan figur-figur yang memiliki kapasitas dan pengalaman yang beragam dan menjanjikan. Sebagian dari mereka berlatar belakang pendidikan tinggi hingga jenjang doktoral (S3), mantan birokrat dengan jam terbang tinggi, eks anggota legislatif yang memahami dinamika politik, pengusaha sukses yang terbiasa dengan pengelolaan organisasi dan sumber daya, serta petahana yang telah memiliki pengalaman memimpin daerah. Kombinasi tersebut, bila disinergikan dengan niat baik dan kerja nyata, dapat membawa kemajuan bagi Kabupaten Bangka.

 

Agar proses pemilihan ulang benar-benar menghasilkan pemimpin yang sah dan memiliki legitimasi kuat, partisipasi pemilih harus ditingkatkan secara signifikan. Legitimasi bukan hanya dilihat dari legalitas hasil pemungutan suara, tetapi juga dari tingginya tingkat partisipasi dan kualitas pilihan masyarakat. Untuk itu, seluruh elemen harus terlibat aktif, mulai dari KPU (Komisi Pemilihan Umum), pemerintah daerah, partai politik, organisasi masyarakat sipil, hingga jaringan informal di masyarakat. Sosialisasi yang masif, inklusif, dan mendidik adalah kunci untuk meningkatkan kuantitas partisipasi sekaligus kualitas pemilih.

 

Tentu, kualitas legitimasi pemimpin juga harus diiringi dengan kredibilitas yang diperkuat, baik dari segi program, transparansi, maupun akuntabilitas dalam menjalankan pemerintahan. Tanpa itu, demokrasi hanya akan menjadi seremonial prosedural yang hampa substansi.

 

Selamat bertarung para kampiun berikan yang terbaik untuk kabupaten Bangka, biarlah frasa sikok bagi limo, kotak kosong  menjadi dinamika sejarah demokrasi yang tercatat di kabupten Bangka.**

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan