Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Sikok Bagi Limo: Parodi Politik di Tanah Serumpun Sebalai (2)

--

 

Thomas Hobbes dalam Leviathan menyebut bahwa tanpa kekuasaan yang sah dan terpusat, masyarakat akan kembali pada kondisi alamiah (state of nature) yang penuh dengan konflik, ketidakpastian, dan kekerasan. Dengan demikian, kekuasaan bukan sekadar alat dominasi, melainkan juga sarana untuk menciptakan stabilitas sosial dan perlindungan kolektif. 

 

Dalam dimensi yang lebih dalam, kekuasaan juga berfungsi sebagai sarana untuk aktualisasi identitas politik individu dan kelompok. Kekuasaan memungkinkan seseorang atau sekelompok orang untuk mendefinisikan dirinya sebagai entitas penting dalam masyarakat, kekuasaan juga mengandung elemen simbolik—yakni sumber pengakuan, kehormatan, dan legitimasi sosial.

 

Namun demikian, kemenangan dalam kontestasi politik tidak serta-merta menjamin keberhasilan dalam tata kelola pemerintahan. Para pemimpin daerah yang terpilih, terlebih dalam situasi pasca-kemenangan kotak kosong di Kabupaten Bangka, menghadapi tantangan struktural yang kompleks, khususnya terkait krisis dalam tata kelola pemerintahan dan tekanan fiskal dalam postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). 

 

Salah satu persoalan utama adalah beban fiskal akibat membengkaknya belanja pegawai, terutama dari keberadaan tenaga honorer yang jumlahnya signifikan. Belanja pegawai yang terlalu besar telah menyerap porsi anggaran yang seharusnya dialokasikan untuk program-program pembangunan strategis, seperti infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan. Dalam hal ini, terjadi penurunan fleksibilitas fiskal, yang mempersulit pemerintah daerah dalam merespons kebutuhan pembangunan dan pelayanan publik. 

 

Sebagaimana dikemukakan oleh Prof. Siti Zuhro dari BRIN, pemimpin daerah pasca-pilkada dihadapkan pada kebutuhan untuk melakukan transformasi birokrasi dan rasionalisasi anggaran sebagai bagian dari reformasi tata kelola yang akuntabel dan efisien. Tanpa langkah-langkah strategis dan terukur, para pemimpin baru akan kesulitan mengkonsolidasikan kekuasaan secara substantif, bahkan berisiko mengalami legitimasi yang rapuh akibat ketidakmampuan merespons kebutuhan publik secara optimal.

 

Oleh karena itu, kekuasaan yang diraih melalui proses elektoral, secara ontologis harus dimaknai tidak hanya sebagai alat kontrol atau prestise, tetapi juga sebagai amanah eksistensial untuk membentuk sistem pemerintahan yang adil, efisien, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat luas. Kemenangan politik harus diiringi oleh kapasitas teknokratik dan komitmen moral, agar kekuasaan tidak menjadi beban, melainkan kekuatan transformatif yang membawa perubahan nyata di tengah tantangan tersebut.

 

//Mengapresiasi Kontestasi, Mendorong Legitimasi Demokrasi di Kabupaten Bangka 

Terlepas dari segala dinamika dan kompleksitas politik yang menyertai, kita patut memberikan apresiasi serta penghargaan kepada lima pasangan calon kepala daerah yang telah berani maju dalam kontestasi politik di Kabupaten Bangka. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan