Akal dan Ilmu dalam Beragama: Antara Rasionalitas dan Fanatisme
Randi Syafutra-istimewa-
Kepercayaan ini tidak didukung oleh fakta ilmiah, namun tetap dipercaya oleh sebagian orang karena kurangnya pemahaman terhadap ilmu pengetahuan dan sejarah Islam. Dalam Islam, perjalanan ke Makkah harus dilakukan dengan cara yang sesuai dengan syariat dan hukum yang berlaku. Kepercayaan terhadap jalur mistis semacam ini tidak hanya menyesatkan, tetapi juga mencederai akal sehat yang seharusnya digunakan dalam memahami agama.
Selain itu, dalam aspek yang lebih luas, kurangnya ilmu sering kali menjadi penyebab munculnya fanatisme beragama yang tidak sehat. Tanpa ilmu, seseorang cenderung menerima informasi secara mentah-mentah tanpa mengkritisinya terlebih dahulu.
Hal ini dapat menyebabkan penyebaran hoaks berbau agama, praktik ibadah yang tidak memiliki dasar yang kuat, hingga sikap intoleran terhadap perbedaan pendapat dalam beragama. Padahal, Islam mengajarkan pentingnya keseimbangan antara akal, ilmu, dan iman agar seseorang tidak terjebak dalam kebodohan dan kesesatan.
//Integrasi Akal dan Ilmu dalam Beragama
Agar seseorang tidak tersesat dalam praktik beragama yang menyimpang, penting bagi setiap muslim untuk mengintegrasikan akal dan ilmu dalam memahami Islam. Berpikir kritis dan rasional harus selalu dikedepankan dalam setiap aspek kehidupan beragama. Dalam Islam, ibadah tidak hanya dilakukan dengan hati, tetapi juga dengan pemahaman yang benar.
Sebagai contoh, dalam memahami konsep takdir, banyak orang yang berpikir bahwa segala sesuatu telah ditentukan dan manusia tidak memiliki kuasa untuk mengubahnya. Padahal, Islam mengajarkan bahwa manusia diberikan kebebasan untuk berusaha dan memilih jalan hidupnya. Dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11 disebutkan: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."
Ayat ini menegaskan bahwa perubahan dan keberhasilan tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus diupayakan dengan ilmu dan usaha yang maksimal. Selain itu, pemahaman agama yang benar juga akan membantu seseorang dalam menyikapi berbagai fenomena sosial dan teknologi.
Dalam era digital saat ini, banyak informasi keagamaan yang tersebar di media sosial tanpa ada sumber yang jelas. Jika seseorang tidak membekali dirinya dengan ilmu, ia mudah terpengaruh oleh narasi yang menyesatkan. Oleh karena itu, setiap muslim harus memiliki sikap kritis dalam menyaring informasi agar tidak terjebak dalam pemahaman yang salah.