"Dunio nek kiamat," ungkap Roi seorang warga Kampung saat beberapa para warga berkumpul di sebuah warung kopi yang terletak diujung Kampung.
"Mimangnya Ka lah dapet ciri-cirinya?," tanya seorang pengunjung warung kopi penuh tanya.
"Ape Ka pikir Markudut nek ken Marfuah bukan salah satu ciri dunio ini nek kiamat?," jawab Roi sembari menyeruput kopi.
"Ape salahnya kalau mereka bedue tuh nek kawin? Marfuah agek dayang. Markudut gek bujang." tanya pengunjung warung kopi yang memakai baju kaos bergambar calon Bupati.
"Dak de nian yang salah dengan hubungan orang tuh. Ini pe hanye soal kepantasan bae. Jarak umor mereka terlalu jaoh. Bak bumi ken langet. Marfuah itu pas e jadi ayuk Markudut . Bahkan Emaknya Markudut. Bukan calon laki e," jelas Roi.
Sontak, para pengunjung warung kopi terdiam mendengar penjelasan Roi.
Di saat cahaya rembulan sudah diatas kepala, di teras rumah Marfuah, wajah Markudut tampak lesu. Wajah lelaki muda itu menampakkan sebuah kegalauan jiwa. Tidak biasanya dimana keceriaan selalu menjalari raganya saat berada di rumah Marfuah.
Selama ini, saat berada di teras rumah sang penari itu, jiwanya selalu berbungkus kebahagiaan. Jiwanya dibaluri kegembiraan.