Ucapan yang disampaikan Marfuah malam itu, telah membuat hatinya luka. Teriris-iris. Jiwanya mati. Tidak ada lagi yang membahagiakan dirinya.
"Kite dak mungkin kawin. Umor kite. Gawe aku dan keluarga mu adalah penyebab semue itu," terang Marfuah kepada Markudut.
"Jadi Ka menolak cinta ku ok?," tanya Markudut.
Marfuah tersenyum. Memandang ke arah Markudut. Senyum penuh pesona ditaburkannya. Senyum yang selalu membuat lelaki berbunga-bunga. Tak terkecuali Markudut.
"Denger ok orang bujang. Hidup neh bukan soal cinta bae. Ada faktor lain yang dak pacak muet kite hidup same-same. Ape agik untuk berumah tanggak," jawab sang penari.
Hati Markudut pun terkoyak saat mendengar kalimat itu.
"Jadi Ka selame nih mempermainkan cinta aku ok?," tanya Markudut penuh selidik.
Marfuah menggelengkan kepala. Dia teringat dengan nasehat ibunya beberapa waktu lalu. Matanya menatap rembulan. Cahaya rembulan menerangi wajah cantiknya.
Suaranya kembali terdengar. Menghantam jiwa muda Markudut.