Dan ini adalah untuk pertama kalinya Markudut sebagai lelaki dewasa membonceng seorang perempuan. Baru kali ini. Sebelumnya tidak pernah sama sekali. Kecuali membonceng ibunya saat minta diantarkan ke pasar untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.
Tak heran, bila kegugupan melanda sekujur tubuhnya saat mengendarai sepeda motor. Apalagi saat sang penari melingkarkan tangannya ke pinggangnya membuat tubuh Markudut menjadi gemetar. Sekujur tubuhnya panas dingin bak orang yang diserang malaria. Badannya terasa dingin. Keringat mengucur deras. Membanjiri sekujur tubuhnya. Demikian pula dengan detak jantungnya. Tak beraturan.
Tidak heran pula bila sepanjang perjalanan menuju rumah sang penari, motor yang dikendarai Markudut menjadi tidak stabil. Markudut ibarat bak orang yang baru belajar mengendarai sepeda motor.
Padahal semenjak menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Atas, dirinya sudah mengendarai sepeda motor saat berangkat sekolah. Demikian pula saat kuliah, sebuah sepeda motor siap mengantarkannya ke kampus.
Itu adalah malam yang menjadi awal lengketnya hubungan dua anak manusia. Kini, Markudut selalu mengantar Marfuah saat pertunjukan menari dan menjemput Marfuah usai pertunjukan menari sang penari.
Setiap hari, lelaki muda itu selalu berada di rumah Marfuah. Pulang ke rumah saat cahaya matahari mulai menuruni langit. Kembali lagi ke rumah Marfuah saat sinar rembulan mulai menaiki langit.
Dan sejak malam itu pula , perseteruan dirinya dengan keluarganya yang sangat menentang hubungan dirinya dengan Marfuah dimulai. Hubungan dirinya dengan Marfuah bukan hanya mendapat tantangan dari Ayah dan ibunya semata.
Suara cibiran datang dari semua warga Kampung. Semua warga Kampung membicarakan hubungan dua anak manusia berbeda jenis itu. Seolah-olah dengan membicarakan kisah asmara antara sang penari dengan seorang anak muda, sejenak mereka melupakan kehidupan sehari-hari mereka yang makin teramat sulit.