"Ka agik mudak. Agek terbentang luas hidup Ka. Agik panjang perjalanan Ka. Kite bekawan bae. Ka anggep bae aku ini, Ayuk Ka," ujar Marfuah lirih.
Mendengar jawaban Marfuah, dada Markudut bergemuruh. Emosinya tidak terbendung. Suaranya meninggi.
"Mimang orang bini dak bagus ati nian Ka neh. Gawe e cuma tukang maen hati urang laki bae. Aku dak nek agik betemu ken Ka. Sampai kiamat ge, ku nggak agik ningok muke ka," teriak Markudut sembari meninggalkan rumah Marfuah dengan emosi yang membalut tubuhnya.
Langkah kakinya bergegas meninggalkan rumah Marfuah. Sangat bergegas.
Ingin rasanya, dia menyampaikan dengan segera kepada kedua orang tuanya, bahwa dirinya tidak memiliki hubungan istimewa lagi dengan sang penari yang bernama Marfuah itu.
Ingin rasanya dengan segera dia mengabarkan berita istimewa itu kepada kedua orang tuanya sembari diringi lagu Penari yang didengarnya dari handphonenya lewat headset.
Penari,
Dikau bagaikan dewi
Tetapi seolah ada sesuatu tersembunyi