Ingatan Markudut menerawang jauh. Sangat jauh. Perkenalannya dengan Marfuah, seorang perempuan telah meluluhlantakkan jiwanya. Markudut, seorang lelaki yang lugu, kini terbuai dengan pesona Marfuah.
Marfuah adalah seorang gadis yang berprofesi sebagai seorang penari. Usianya sekitar 40 tahunan. Wajahnya cantik bak bintang sinetron striping di tipi.
Gerakan tubuhnya saat menari di atas panggung sangat luwes. Mempesona para penyaksi. Digila-gilai kaum adam.
Tidak heran bila tangan-tangan jahil berusaha menjamahnya dengan saweran. Suara-suara nakal membisikkan hamparan harapan di telinganya.
Pesona kecantikannya tak tertandingi. Kemasyhuran namanya sebagai penari menembus hingga ke Kampung-kampung terluar.
Bahkan mampu menaklukkan hati para pembesar dari berbagai pelosok untuk blusukan ke Kampung demi melihat dirinya tampil menari di atas panggung.
"Aku hiran nue ken penari nih. Ngape lum pakai kawin?," tanya seorang teman Markudut saat mereka menonton pertunjukan Marfuah menari dalam sebuah acara di Pendopo Kecamatan.
"Padahal muke e cikar. Juged e sangat lihai. Dak mungkin, dak de urang laki yang dak nek ken die" sambung teman Markudut lainnya.