Tetua desa memutarkan badannya menghadap ke arah Barat, kemudian menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, lalu mulutnya komat-kamit seperti sedang berdiskusi. Setelah sekitar satu menit, sang tetuah desa selesai dengan urusannya.
“Hari Jumat besok kita lakukan ritualnya,” tetua desa kembali berbicara kepada kepala desa dan jajarannya. “Untuk hari ini kita bubar.”
Setelah musyawarah selesai dan tetuah desa sudah pergi. Sang kepala desa membagi tugas kepada jajarannya untuk menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan pada upacara pencarian anak yang hilang.
“Apakah anak itu juga kena siung buaya ya pak?” tanya salah seorang jajaran desa kepada kepala desa.
“Mungkin juga,” kepala desa menjawab sekenanya.
***
Siung buaya adalah suatu peristiwa yang sering terjadi di desa Pulut. Dimana jika seseorang diminati oleh binatang buaya maka dia akan ditandai oleh buaya tersebut. Yang ditandai kebanyakan anak-anak, walaupun sebenarnya ada juga orang dewasa, namun persentasenya lebih banyak anak-anak.
Warga desa Pulut percaya buaya yang menandai itu adalah buaya jadi-jadian. Makanya warga percaya bahwa jika ada yang hilang di sungai pasti diambil oleh buaya jadi-jadian itu.