Namun, belum sempat jajarannya merespons pernyataan sang Kepala Desa. Tiba-tiba dari kejauhan tampak sang tetua desa berjalan menuju lokasi ritual. Dengan pakaian seluruhnya berwarna hitam dan ikat kepala juga berwarna hitam, tetua desa memasuki kerumunan warga.
Sambil mengusap janggutnya yang sudah memutih, ia memperhatikan satu persatu warga yang hadir termasuk juga kepala desa dan jajarannya.
“Bawa ke sini ayamnya,” perintah tetua desa kepada kepala desa dan jajarannya.
Kepala desa memerintahkan jajarannya untuk membawa ayam jago hitam dan perlengkapan lainnya ke depan tetua desa.
Sang tetua desa kemudian mengeluarkan sebilah pisau kecil dari pinggangnya, kemudian menghunusnya dan memutar-mutarnya sebentar, seolah ingin memperlihatkan kepada warga bahwa pisau yang dipegangnya mempunyai kesaktian. Dan dalam hitungan detik ayam jago hitam itu dipenggal lehernya oleh sang tetua
desa.
Darah segar mengalir dari leher ayam jago hitam itu. Dengan gerakan cepat tetuah desa mengambil pisang mas dan bambu temu ruas, kemudian dibalurkan dengan darah ayam jago hitam tadi. Setelah dirasa cukup, lalu ayam jago yang masih menggelepar menjemput sakaratul maut dilemparkan bersama pisang mas dan bambu ke sungai.
“Kita tunggu satu jam lagi, pasti anak itu akan dikembalikan,” ujarnya.
Semua warga manut saja apa yang diperintahkan sang tetua desa, karena memang selama ini seperti itulah prosesnya. Dan selama ini ucapan tetua desa selalu terbukti.