Namun, keanehannya adalah orang yang diambil itu tubuhnya tetap utuh dan biasanya hanya bisa ditemukan dengan adanya ritual yang dilaksanakan oleh tetua desa. Warga juga percaya metode menandai sang buaya jadi-jadian dilakukan ketika seseorang mandi di sungai, makanya bagi warga Desa Pulut bagai buah simalakama, tidak mandi takut terkena penyakit kulit, namun jika mandi pasti harus ke sungai, karena itu adalah tempat satu-satunya untuk mandi.
Konon jika seseorang sudah ditandai maka akan ada perbedaan pada tubuhnya, namun perubahan itu hanya bisa dilihat oleh sang tetuah desa. Tetua desa akan melihat perubahan pada diri orang yang ditandai sesuai dengan keparahannya. Misal orang yang baru ditandai akan dilihat perubahan hanya pada kaki sampai lehernya, seperti monyet. Jika masih seperti itu maka orang itu masih bisa diselamatkan, Namun jika sudah berubah seluruh tubuhnya, maka tinggal menunggu waktu saja untuk diambil sang buaya.
*****
Sore itu, seluruh warga desa Pulut sudah berkumpul di sebuah jembatan pinggir sungai. Semua ingin menyaksikan ritual pencarian anak yang hilang tempo hari. Semua perlengkapan yang diminta pun sudah disiapkan pihak desa.
Kepala desa dan jajarannya sudah standby semenjak pukul tiga sore tadi. Sementara tetuah desa belum tampak batang hidungnya.
Semua warga sudah gelisah menunggu ritual yang dianggap suci itu. Mereka ingin menjadi saksi sejarah tentang kesaktian sang tetua desa. Mereka ingin membuktikan kembali bahwa untuk kesekian kalinya sang tetuah desa berhasil menuntaskan tugasnya.
Hari sudah menunjukkan pukul lima sore, tetapi sang tetua desa belum juga muncul. Warga yang sedari tadi menunggu tampak sudah tidak sabar. Bahkan ada sebagian yang memutuskan untuk pulang karena ada keperluan. Tidak seperti biasanya tetua desa terlambat seperti itu. Biasanya beliau selalu datang tepat waktu.
“Sepertinya tetua desa mengalami kesulitan untuk kasus yang satu ini,” bisik Kepala Desa.