Oleh karenanya, manfaat puasa, melatih kita untuk menjadi manusia yang mampu menaklukan kesenangan, tidak seperti bayi. Mampu minum jamu yang rasanya tidak enak demi kesehatan yang lebih baik. Mampu lapar dan haus walau makanan dan minuman berada didepan mata. Mampu mengorbankan kesenangan demi kewajiban dari Allah SWT dan kebaikan sesama manusia. Syukurnya jika hal tersebut mampu kita proses sedemikian rupa, sehingga kesenangan dan kewajiban atau kebaikan bisa menyatu.
*
ISTILAH “Tuhan Pun Berpuasa” adalah gambaran yang diutarakan oleh Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) tentang bagaimana Allah SWT begitu sabar terhadap perilaku hamba-Nya. “Tuhan Pun Berpuasa” disini bukan bermaksud untuk menyerupakan dengan makhluk-Nya. Namun maksudnya adalah betapa Allah secara langsung memberikan teladan kepada kita, esensi dari berpuasa sebagai rukun Islam ke-3, yakni menahan dan mengendalikan diri.
Allah SWT selalu menahan diri dari segala sesuatu yang sebenarnya begitu mungkin untuk Dia lakukan. Dengan amat setia Allah menerbitkan matahari tanpa peduli apakah kita pernah mensyukuri terbitnya atau tidak. Allah memancarkan cahaya matahari tanpa menghitungnya dengan pengkhianatan yang kita lakukan setiap hari. Allah memelihara kesehatan tubuh kita dari detik ke detik meski pun ketika bangun pagi hanya ada satu dua hamba-Nya yang mengucapkan syukur bahwa matanya masih bisa melek alias mencelak.
“Tuhan Pun Berpuasa” karena sikap Sang Pencipta ini menunjukkan rasa cinta dan romantisme bukan kekuasaan atau hukum. Ini berarti Allah tidak mengambil laba dari puasa manusia, melainkan Allah menekankan betapa menguntungkannya ibadah puasa bagi diri manusia itu sendiri. Dengan berpuasa pula, Allah menunjukkan bahwa Islam merupakan agama pembebasan atau penyelamatan. Puasa menjadi metode yang paling praktis, tapi mendasar bagi proses pembebasan dan penyelamatan manusia atas dirinya sendiri. Allah juga menunjukkan kepada manusia bahwa puasa merupakan sebuah kegiatan mengendalikan dan menahan diri dari segala hawa nafsu keduniawian. Itu merupakan prinsip dasar menjalani kehidupan.
“Tuhan Pun Berpuasa” karena setiap detik waktu yang Ia ciptakan, Allah masih menahan diri dari segala sesuatu yang sebenarnya sangat mungkin Ia lakukan tanpa ada apapun halangan. Apa sih yang tidak bisa diwujudkan oleh Allah SWT? Gunung dengan seizing-Nya bisa memuntahkan segala isi perutnya. Langit, ketika Tuhan yang memerintahkan untuk menurunkan badai, maka tidak ada halangan apapun yang bisa menahannya.
Namun nyata Tuhan masih “berpuasa” untuk tidak melakukan itu kepada kita yang sudah sangat kufur nikmat ini. Tuhan lebih menunjukkan sifat kasih sayangnya ketimbang menunjukkan kekuatan kemurkaan yang Ia miliki kepada kita umat manusia yang kian hari kian jauh dari apa yang Ia perintahkan. Politik, hukum, ekonomi, media, pendidikan, cara beragama dan kehidupan sosial kita di negeri ini sudah semakin jauh dari apa yang diperintahkan Tuhan, namun nyatanya Tuhan masih “berpuasa” untuk tidak menunjukkan kemurkaannya dengan sifat rahman dan rahim-Nya.
Jadi, benar apa yang diungkapkan Cak Nun bahwa: “TUHAN sendiri “berpuasa”. Kalau tidak, kita sudah dilenyapkan oleh-Nya, karena sangat banyak alasan rasional untuk itu”.
Salam Puasa!(*)