Banjir
Ahmadi Sopyan-screnshot-
Oleh: AHMADI SOFYAN
Penulis Buku / Pemerhati Sosial Budaya
PEMERINTAH harus banyak belajar dari filosofi terjangan banjir.
Jangan sampai rakyat banjir emosi akibat ketidakpercayaan
serta “menghakimi” para pemimpinnya.
MENGEJUTKAN sekaligus sangat menyedihkan. Itulah yang kita rasakan semua ketika mendengar kabar dan melihat dari berbagai media bagaimana bencana banjir menimpa saudara kita di Sumatera dan Aceh. Kita tentunya tidak lepas dari do’a agar bencana ini segera berakhir dan masyarakat yang tertimpa diberi kekuatan kesabaran, kesehatan dan kembali beraktivitas pasca banjir berselimutkan keberkahan Allah SWT.
Memang, banjir yang disertai longsor parah menimpa Sumatera dan Aceh ini bukan sekedar musibah, tapi adalah bencana akibat ulah manusia-manusia serakah mengeksploitasi alam yang seharusnya bagian dari kehidupan aman serta nyaman bagi manusia. Pulau Sumatera yang seharusnya adalah bagian dari belantara nan sejuk dengan pepohonan dan sungai yang jernih, sudah menjadi wilayah perkebunan yang gersang dan pertambangan dengan penggalian yang sangat berlebihan. Akhirnya air mencari jalannya dan alam memberikan kemurkaan akibat mereka yang memiliki uang dengan perilaku serakah.
Negeri ini sering terjadi bencana akibat ulah manusia. Berbagai berita dari se-antero negeri membuat degup jantung kita berdebar kencang. Tsunami, banjir, tanah longsor, angin puting beliung, lahar dingin, gempa dan gunung meletus. Begitupula dengan bencana-bencana lainnya seperti korupsi, narkoba, kemaksiatan dan sebagainya.
Bentuk bencana bencana alam yang sering melanda negeri ini tak lepas dari campur tangan manusia, terutama banjir dan tanah longsor. Semua bentuk bencana terebut tidak lepas dari proses alias tak mungkin terjadi secara tiba-tiba. Bencana banjir dan tanah longsor misalnya, adalah bencana alam yang diawali oleh proses keserakahan dan ketidakpedulian terhadap lingkungan dan alam. Pembuangan sampah sembarangan, pendangkalan sungai, penebangan pohon, pertambangan semau perut pengusaha dan kolong-kolong yang dibiarkan begitu saja adalah bagian-bagian dari penyebab bencana banjir yang tak pernah disadari oleh banyak umat manusia di negeri ini. Sehingga mengakibatkan makin sedikitnya resapan air ketika turun hujan lebat dalam intensitas lama seperti kemarin.
Setiap makhluk Tuhan memiliki ruang tersendiri. Air adalah makhluk Tuhan dan ia memilki ruang dan jalannya tersendiri. Jika jalan dan ruang-ruang air sudah dihalangi dan di rusak oleh manusia akibat pembuangan sampah sembarangan, pendangkalan sungai, pertambangan yang kian merusak alam dan tak pernah diperbarui, maka air pun mencari ruang-ruang terdekat dengan tak peduli lagi membanjiri manusia. Tentu saja bentuk “menghalangi” jalannya air dan merusak alam itu hanya bisa dicegah oleh tangan-tangan penguasa dan aparat penegak hukum yang benar-benar berdiri tegak diatas dasar hukum yang ada, bukan berdiri diatas tumpukan dan lembaran Rupiah atau Dollar.
Banjir Kasih Sayang
KETIKA bencana datang melanda, memporak-porandakan kehidupan dan ekonomi, satu hal yang tak boleh dilakukan adalah mengeluh, menggerutu apalagi sampai menyalahkan Sang Pencipta. Segala bentuk bencana yang terjadi tidak lepas dari buah perbuatan kita umat manusia. Kita yang saya maksud disini adalah semuanya, saya, anda, orangtua, anak muda, kiyai, pastor, pendeta, tokoh masyarakat, pengusaha, apalagi perbuatan para pejabat (penguasa) dan aparat “penegak” hukum.