Banjir
Ahmadi Sopyan-screnshot-
Musibah banjir dan longsor di Sumatera dan Aceh pun memiliki hikmah kebersamaan. Hal positif yang mengharukan dan patut kita apresiasi adalah bentuk kepedulian dan kasih sayang semua elemen masyarakat Indonesia. Semua bersatu padu membantu, semua ambil posisi untuk peduli, semua cari tempat untuk berbuat, satu dalam kebersamaan dan bersama untuk bersatu padu membantu para korban banjir. Tak ada lagi perbedaan di antara kita karena kita adalah sama. Sekali lagi masyarakat lho ya, bukan pejabat penuh pencitraan dengan memikul karung beras disorot kamera dan anggota dewan berrompi yang sok peduli dengan tangan menunjuk-nunjuk di kamera, seakan tahu persoalan, padahal dungu setengah mati.
Berbagai bantuan hingga hari ini terus membanjiri, dari mulai makanan, pakaian, minuman, obat-obatan, listrik dan kebutuhan hidup lainnya. Semua kelompok masyarakat berlomba-lomba untuk menebar kasih sayang dalam bentuk kepedulian. Ini yang mengharukan dan sangat inspiratif dalam kehidupan sosial masyarakat kita. Banjir air boleh menggenang, banjir kasih sayang tak boleh hilang dan lekang di bumi ini. Sikap dan perilaku individual spontan hilang dari seluruh elemen masyarakat karena semua telah berbuat. Sebuah nilai positif kita dapatkan di balik air yang membanjiri adalah banjirnya kasih sayang dan kepedulian ditengah-tengah kehidupan kita. Dari sini kita bisa menilai, bahwa Bangka Belitung sangat mampu menjadi daerah hebat dan luar biasa jika kebersamaan dan kepedulian ini terus berlanjut untuk membangun negeri, baik untuk sumber daya alam maupun sumber daya manusia-nya.
Kasih sayang, pengorbanan, kepedulian, kerjasama, saling pengertian dan gotong royong masih melekat dalam kehidupan kita dari musibah banjir ini. Ini adalah kasih sayang “tangan” Tuhan melalui tangan-tangan manusia terbaik yang dipilih-Nya untuk membantu sesama.
Memang benar banjir adalah sebuah bencana, memang benar banjir membawa setumpuk duka dan derita, memang benar banjir juga membawa banyak cerita. Tapi marilah kita belajar memahami bahwa segala sesuatu yang terjadi senantiasa memiliki 2 sisi. Satu sisi kita berduka, tapi di sisi lain kita mengalami cinta dan kasih sayang dalam bentuk kepedulian yang sangat luar biasa. Di satu sisi kita mengalami banyak kehilangan, tapi di sisi lain kita juga mendapatkan banyak hikmah, pelajaran dan pengalaman. Musibah banjir mengajak kita berpikir seraya tak lepas dari syukur dan tafakkur bahwa dibalik ini manusia haruslah pandai introspeksi diri, terutama para pengambil kebijakan di negeri ini.
***
DI TENGAH kepahitan banjir dan longsor parah di Sumatera dan Aceh, saya teringat senandung syair lagi Ebiet G.Ade “mungkin alam mulai enggan, bersahabat dengan kita......” dan juga terngingang ditelinga saya sindiran lama yang bernada pedas dari para orangtua kita di kampung-kampung: “Pinter dak ngajir, budu dak belajir”, salah satu akibat kita banjir musibah akibat ketidakpedulian terhadap alam sebagai keberkahan Tuhan untuk kita jaga bukan dieksploitasi oleh Pengusaha di Ibukota.
Salam Banjir!(*)