Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Polisi & Perempuan

Ahmadi Sopyan-screnshot-

Oleh :  AHMADI SOFYAN

Penulis Buku/Pemerhati Sosial Budaya

 “BAGAIMANA Polisi harusnya menghadapi masyarakat?” saat menjadi Narasumber dihadapan Polisi, pertanyaan itu pernah disampaikan kepada saya. Dengan enteng saya jawab: “Seperti kita kaum laki-laki menghadapi kaum perempuan. Harus siap selalu salah di mata perempuan tapi kita harus tetap sayang, melindungi dan mengayomi”

---------

 PERALANAN panjang Kepolisian Republik Indonesia memiliki banyak pasang surut dan romantika. Memang begitu, sebab Polisi bukan hanya penegak hukum, tapi ia berhadapan langsung dengan semua kalangan masyarakat. Polisi garda terdepan dalam penegakan hukum yang langsung disaksikan dan dirasakan seluruh masyarakat. Sedangkan penegak hukum yang lain, lebih eksklusif, misalnya di ruang pengadilan saja.  

Wajar, jika Polisi selalu menjadi bahan perbincangan, segala persoalan bisa diarahkan ke kepolisian. Memang disisi lain, Polisi bagian dari rakyat, tapi dilain sisi ia adalah penegak hukum yang memiliki kewenangan dari negara. Citra polisi seringkali tidak menguntungkan, terlebih pada era semua orang bisa menjadi pengabar berita, semua orang bisa menjadi kameraman, semua orang adalah CCTV dan semua bisa narasikan sesuai keinginan hati maupun kepentingan. Namun, kejadian demi kejadian yang harusnya tak boleh terjadi, tidak pernah lepas dari keberadaan dan tindakan oknum Polisi. Misalnya, kasus kematian Brigadir J yang melibatkan begitu banyak perwira tinggi Polri dan juga kasus Kanjuruhan Malang dan banyak lagi kasus-kasus yang viral dan tak sedikit akibat ulah oknum mengganggu sinergitas Polri dan TNI. 

Oya, mengapa selalu Polisi? Polisi adalah profesi yang langsung bersentuhan dengan masyarakat, baik secara sosial maupun hukum. Oleh karenanya, kalau ada Bad Cop, itu sangat manusiawi. Tapi dengan memahami budaya lokal dan nilai-nilai kearifan didalamnya, salah satu cara untuk terwujudnya Good Cop. Bagaimana dan sampai kapanpun, Polisi akan terus menjadi sorotan. Tapi disinilah “keikhlasan” profesi seorang Polisi dalam berbuat “amar ma’ruf nahi munkar” nantinya akan teruji. Polisi dibenci, tapi disisi lain dicintai. Polisi dihujat, tapi disisi lain kita berusaha dekat. Polisi dicaci, tapi disisi lain dibutuhkan dalam berbagai kondisi. Jangankan berbuat buruk, salah ucap, salah sikap, benar dan terpuji saja perbuatan dan ucapan, Polisi akan dicari sisi buruknya, setidaknya dicurigai. Polisi tak disenangi, tapi ketika pendaftaran terbuka untuk menjadi Polisi, ratusan bahkan ribuan anak negeri ini mendaftarkan diri. 

Polisi & Nilai Kearifan Lokal

DALAM obrolannya kepada seorang Perwira Polisi mengatakan bahwa Prinsip Kerja Polisi dalam melaksanakan Program Presisi Kapolri, adalah mengedepankan Etika Proposional. Eskalasi sikap perilaku dan tindakan menyesuaikan, guna Polri memahami karakter masyarakat yang dihadapinya. Kepada masyarakat Taat dan Sadar Hukum, maka sikap Polri adalah SOPAN dan MELAYANI. Kepada Masyarakat belum taat tapi mau untuk sadar hukum, maka sikap Polri adalah MENGEDUKASI dan MENGAYOMI. Yang terakhir, kepada masyarakat belum taat dan masih sulit untuk sadar hukum, maka Polri harus bertindak TEGAS namun tetap MELINDUNGI.

Menurut saya, 3 hal ini bisa menjadi nutrisi kecerdasan sosial anggota Polri dalam memahami kehidupan sosial masyarakat. Karena menyelami kehidupan sosial kemasyarakatan dalam koridor hukum seperti Polri itu sangatlah tidak gampang. Terlebih di era media digital seperti sekarang ini. tambahan nutrisi kecerdasan bagi semua anggota Polri adalah sebuah keharusan. Pencitraan tidak perlu dibuat-buat, tapi haruslah se-natural mungkin. 

Di Bangka Belitung, Polri hendaknya memahami betul bahwa karakter masyarakat Bangka Belitung memiliki kekhasan tersendiri. Diantaranya senang bekawan (bersahabat) dan dijadikan “seperadik” (saudara). Karakter orang Bangka yang selalu menganggap semua orang adalah sama atau setara, maka tidak ada penghormatan berlebihan, sebab itu janganlah bersikap ingin dihormati apalagi petantang-petenteng. Bekawan dan ber-seperadik, adalah salah satu cara yang paling gampang mendekati orang Bangka Belitung. Selanjutnya, tingkat humor yang lumayan tinggi (ingel-ingel/begagil). Oleh karenanya, tidak bersikap tegang, adalah pilihan terbaik dalam menyelami kehidupan masyarakat lokal. Tak mau ambil pusing alias memperpanjang masalah atau istilah urang Bangka “manjeng tali kelambu”, adalah sikap hampir semua masyarakat Bangka. So, persoalan diselesaikan dengan santai, duduk bareng, ngopi bareng, makan lempah kuning bareng adalah salah satu solusi. Karakter orang Bangka Belitung selanjutnya adalah persis seperti kunyit dalam lempah kuning. Mendominasi dan mewarnai, walaupun tidak nampak saat dinikmati. Ini maknanya sangat luas dan tak cukup spasi di media ini untuk saya tulis. 

Siap Selalu Salah!

KITA kaum laki-laki adalah makhluk Tuhan yang harus memiliki kesabaran dan kelucuan yang lebih jika berhadapan dengan makhluk bernama perempuan. Sebab laki-laki dihujat adalah hal yang biasa, tapi membalas hujatan itu kepada kaum perempuan, pasti kita akan salah dan disalahkan. Misalnya, berapa banyak lagu diciptakan menghina dan menghujat kita kaum laki-laki? Kita disebut “Kucing Garong”, “Buaya Darat”, “ABG Tua” dan sebagainya. pernah ada lagu yang menghujat kaum perempuan? Silahkan dibikin dan dinyanyikan, kalau mau dihujat dan dituntut oleh kelompok organisasi perempuan.

“SIAP Selalu Salah!” begitulah sikap kita kaum laki-laki kepada kaum perempuan. Sebab memang kita harus salah jika berhadapan dengan perempuan, sebab kita semua pastinya dilahirkan dari rahim perempuan. Itulah istilah yang saya gunakan ketika ditanya bagaimana sikap Polri menghadapi masyarakat. “Harus siap selalu salah” sebab Polri berasal dari masyarakat. Tidak hanya disalahkan dan dicari kesalahannya, tapi dihujat, dicaci, dimaki, dicurigai dan lain sebagainya, Polri harus tetap melindungi dan mengayomi sebagaimana kaum laki-laki menghadapi perempuan.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan