Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Ecotheology for Green Madrasah

Siti Aminah.-Dok Pribadi-

Kebiasaan mematikan lampu setelah digunakan, membawa botol minum sendiri, menjaga kebersihan toilet, merawat tanaman kelas, mengurangi penggunaan plastik, dan tidak menyisakan makanan secara berlebihan. Guru memberi keteladanan, kepala madrasah memberi arah kebijakan, tenaga kependidikan menjaga konsistensi layanan, sedangkan orang tua memperpanjang kebiasaan baik itu di rumah. Dengan terjalinnya kolaborasi antara madrasah dengan orang tua/wali murid diharapkan dapat memperkuat proses pembiasaan yang sudah dilakukan di madrasah.

 

Pada titik ini, peran Balai Diklat Keagamaan Semarang sebagai salah satu penyelenggara pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan madrasah daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah menjadi sangat penting. Hal ini dikarenakan para guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah DIY dan Jawa Tengah dalam pengembangan kompetensi kinerjanya di antaranya menjadi tugas dari BDK Semarang. 

 

Beberapa waktu yang lalu, Balai Diklat Keagamaan Semarang telah mengambil langkah konkret melalui penyelenggaraan Bimbingan Teknis Ekoteologi yang diselenggarakan pada tanggal 14 sampai 16 April 2026, yang diikuti oleh seluruh widyaiswara dan pegawai BDK Semarang. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk komitmen kelembagaan dalam memperkuat pemahaman, kesadaran, dan kesiapan sumber daya manusia Kementerian Agama untuk mengarusutamakan nilai-nilai ekoteologi dalam tugas kediklatan dan pelayanan publik.

 

Tujuan penyelenggaraan Bimtek Ekoteologi tersebut adalah membekali peserta (dalam hal ini pegawai pada BDK Semarang) agar memiliki pemahaman secara komprehensif tentang nilai-nilai agama dan spiritualitas dalam menjaga alam. 

 

Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif untuk menjaga kelangsungan lingkungan dengan berpartisipasi aktif dalam upaya pelestarian alam. Kesadaran tersebut menjadi penting sebagai bagian dari ikhtiar bersama untuk membangun masyarakat yang adil, makmur, dan selaras dengan ajaran agama, dan diharapkan lebih konkrit lagi secara kolabofatif mampu menciptakan lingkungan kerja yang ramah lingkungan.

 

Literatur pendidikan lingkungan dalam satu dekade terakhir menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan berkelanjutan sangat bergantung pada integrasi antara pengetahuan, nilai, kebiasaan, dan aksi kolektif. Artinya, murid tidak cukup mengetahui bahwa lingkungan harus dijaga dan dilestarikan. 

 

Namun, mereka juga harus mengalami, mempraktikkan, merefleksikan, dan menjadikan perilaku ramah lingkungan sebagai bagian dari identitas diri murid. Di sinilah ekoteologi memberi nilai tambah, karena ia telah menghubungkan dimensi ekologis dengan spiritualitas, etika, dan tanggung jawab sosial. Atas tumbuhnya kesadaran tersebut diharapkan secara pelan tapi pasti madrasah dapat membentuk kebiasaan murid berperilaku mencintai dan menjaga lingkungan tetap asri, bersih, nyaman, baik di madrasah, di rumah, maupun di lingkungan masyarakat.

 

Implementasi ekoteologi di madrasah perlu dibangun melalui kolaborasi dengan berbagai pihak. Madrasah dapat bermitra dengan puskesmas, dinas lingkungan hidup, bank sampah, pemerintah desa, komunitas pecinta lingkungan, perguruan tinggi, dunia usaha, maupun pihak lain yang memungkinkan untuk dibangun kolaborasi. Kolaborasi ini penting agar madrasah tidak merasa bekerja sendiri. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan