Ecotheology for Green Madrasah
Siti Aminah.-Dok Pribadi-
Seluruh aktivitas pendidikan dan proses pembelajaran, mulai dari kebijakan kepala madrasah, praktik pembelajaran guru, layanan tenaga kependidikan, perilaku murid, hingga dukungan orang tua/wali murid, bergerak dalam satu ekosistem nilai dan tekad yang sama: merawat bumi sebagai amanah Ilahi. Semua warga madrasah harus memiliki komitmen yang sama dan bergerak bersama dalam mewujudkan madrasah ramah lingkungan.
Agar ekoteologi tidak hanya berhenti sebagai konsep saja, maka dalam hal ini madrasah harus mampu melakukan transformasi pada tiga level berikut. Pertama, transformasi paradigma. Guru dan murid harus memahami bahwa alam bukan objek eksploitasi atas keserakahan umat manusia, melainkan ruang kehidupan yang memiliki hak untuk dijaga kelestariannya oleh umat manusia.
Pembelajaran agama, sains, IPS, bahasa, seni, dan projek kokurikuler dapat menjadi media pembelajaran untuk membangun cara pandang baru bahwa manusia bukan penguasa mutlak atas alam, melainkan khalifah yang bertanggung jawab. Bertanggung jawab dimaksud adalah bahwa umat manusia harus mampu menjaga keseimbangan dan kelestarian alam.
Kedua, transformasi tata kelola. Program ekoteologi harus dimasukkan dalam dokumen perencanaan madrasah, seperti kurikulum operasional madrasah, rencana kerja tahunan, penganggaran, tata tertib, dan sistem evaluasi. Melalui cara ini, ekoteologi tidak sekedar bergantung pada semangat personal sesaat, akan tetapi menjadi kebijakan institusional yang terukur dan berkelanjutan.
Panduan juga menekankan bahwa implementasi program ramah iklim dapat diwujudkan melalui kebijakan pimpinan madrasah, integrasi materi ekoteologi ke dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, serta pembudayaan gaya hidup ramah iklim. Melalui transformasi tata kelola ini diharapkan semua warga madrasah dapat bergerak bersama mewujudkan madrasah yang ramah lingkungan.
Semua guru dan tenaga kependidikan madrasah harus mampu memberikan teladan gaya hidup cinta lingkungan. Dengan demikian murid dapat meneladani gaya hidup yang ditunjukkan oleh Kepala Madrasah, para guru dan tenaga kependidikan di madrasah.
Ketiga, transformasi budaya. Inilah inti terpenting untuk pembiasaan murid. Budaya ramah lingkungan terbentuk ketika warga madrasah terbiasa bertindak ekologis tanpa harus selalu diperintah, tanpa harus dibayang-bayangi dengan punishment jika terjadi pelanggaran.Â