Pohon Besar di Ujung Desa
Syabaharza-Dok Pribadi-
Salah seorang yang memegang gergaji senso besar mengajukan pertanyaan kepada panitia. Orang ini adalah yang direkomendasikan oleh pria muda tempo hari. Ia berpakaian rapi dengan rompi bertuliskan nama dinas yang mengurusi hutan. Gergaji senso yang dipegangnya bermerek terkenal. Bagi masyarakat desa gergaji sinsu itu baru pertama mereka lihat. Selama ini mereka melihat gergaji senso yang biasa saja.
“Ke arah timur saja.” Pria berkumis yang kemarin menyetujui usul pria muda menjawab sambil menunjukkan arahnya.
Orang yang memegang senso berputar mengelilingi pohon besar itu. Setiap lekuk pohon itu diperhatikannya. Tampaknya ia sedang mencari jalan untuk memulai misinya. Lama ia memutari pohon besar itu, bahkan sampai tujuh kali putaran, seperti orang sedang tawaf saja.
“Ini akan memakan waktu yang lama.”
Orang itu menghela nafas setelah melihat lingkaran pohon yang sangat besar itu. Jika ditaksir lingkaran pohon hanya bisa dipeluk oleh tiga orang besar. Dari lingkarannya itu membuktikan bahwa pohon besar itu memang sudah berusia lanjut. Jika diamati dengan saksama memang terlihat seram. Ditambah duri-durinya yang besar menambah keseramannya.
“Kau yakin akan meneruskannya? Kami tidak bertanggung jawab ya kalau terjadi apa-apa?”
Tiba-tiba pria berkumis berbisik kepada orang yang memegang sinsu tadi. Ia masih yakin kalau orang yang berani menebang pohon itu akan mendapatkan kesialan.
Tanpa menghiraukan bisikan pria berkumis, orang yang memegang sinsu menghidupkan sinsunya dan segera mendekat ke pohon besar itu. Raungan suara sinsu memecah keheningan. Dalam sekejap sinsu itu sudah bekerja. Gerakan demi gerakan senso membuat tanda di batang pohon besar itu. Tatal-tatal dari pohon besar itu beterbangan ke segala arah. Orang itu terus khusyuk melakukan tugasnya.
Sementara sebagian besar masyarakat yang hadir mulai cemas. Mereka yang termakan isu pohon besar itu ada penunggunya semakin penasaran, mereka menunggu apa yang terjadi dengan orang yang berani menebang pohon itu. Ada yang siap-siap kabur jika memang ada kejadian yang membahayakan. Ada yang berbisik bahwa sebentar lagi orang yang menebang itu akan celaka dan berbagai asumsi-asumsi liar lainnya.