Menyongsong Capaian Pendidikan Berdampak: Transformasi Satu Tahun Kemendikdasmen
Ilustrasi-screenshot-
Melalui portal “Belajar.id” dan “SPMB Online”, jutaan siswa kini bisa mengakses sumber belajar terbuka, melakukan asesmen mandiri, dan mengikuti kelas lintas sekolah. Katadata (2025) menyoroti bahwa transformasi digital ini meningkatkan efisiensi pembelajaran hingga 32%, dan menekan kesenjangan antara kota dan desa.
SPMB yang menjadi sorotan publik belakangan ini adalah bukti paling nyata dari keberhasilan digitalisasi pendidikan. Survei KIC (Katadata Insight Center) mencatat 88% orang tua menilai sistem SPMB lebih baik daripada PPDB lama, karena dianggap lebih transparan dan berkeadilan (detik.com).
Bahkan, 70% responden mengaku lebih percaya terhadap proses seleksi berbasis data daring yang tidak bisa dimanipulasi (mediaindonesia.com). Digitalisasi, dalam konteks ini, bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang keadilan sosial yang dibangun melalui data.
3. Peningkatan Kompetensi dan Kesejahteraan Guru: Mengembalikan Martabat Pengajar
Tak ada pendidikan bermutu tanpa guru yang sejahtera dan berdaya. Pemerintah menyalurkan Rp13,2 triliun untuk mendukung kompetensi dan kesejahteraan guru.
Program ini meliputi tunjangan profesi guru non-ASN Rp2 juta bagi lebih dari 785 ribu guru, Bantuan Subsidi Upah (BSU) sebesar Rp300 ribu untuk 253 ribu guru PAUD nonformal, serta PPG bagi 804 ribu guru.
Lebih penting lagi, mulai Juni 2025, insentif Rp300 ribu per bulan selama tujuh bulan diberikan untuk guru non-ASN, total Rp2,1 juta per orang, disalurkan Agustus–September 2025.
Di balik angka ini, ada semangat memulihkan martabat pendidik mereka bukan sekadar aparatur, melainkan penggerak moral bangsa. Sebagaimana diungkapkan oleh Mendikdasmen dalam rilis resminya, “Guru bukan hanya penyampai ilmu, tapi pembentuk peradaban. Maka kesejahteraan mereka adalah kesejahteraan bangsa.” (kemdikdasmen.kemdikbud.go.id)