Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Sikok Bagi Limo: Parodi Politik di Tanah Serumpun Sebalai (1)

Fadilah-Dok Pribadi-

 

Sementara pasangan Mulkan dan Ramadian meraup 50.443 suara atau 42,75 persen, tetapi ada hal yang membuat pesimistis terhadap dinamika demokrasi karena tingkat partisipasi masyarakat di TPS -TPS yang ada hanya 52 % saja , ini juga menjadi catatan untuk bahan kajian tentang fenomena kotak kosong. 

 

Secara keseluruhan, kasus ini memperlihatkan dua sisi wajah demokrasi,  Namun, di balik kemenangan simbolik kolom kosong ini, terselip ironi dalam praktik demokrasi di tingkat lokal. Tingkat partisipasi pemilih yang tercatat hanya 52% dari total Daftar Pemilih Tetap (DPT) menandakan adanya apatisme atau kelesuan politik di kalangan masyarakat. Rendahnya angka ini seolah menjadi sinyal peringatan bahwa kepercayaan publik terhadap proses demokrasi mengalami penurunan. 

 

//Pemilihan Ulang di Kabupaten Bangka 

Akibat langsung dari kemenangan kotak kosong ini adalah diselenggarakannya pemilihan ulang, sebagaimana diatur dalam regulasi pemilihan umum di Indonesia. Hal ini menjadi bukti bahwa sistem demokrasi memberikan ruang kepada rakyat untuk menolak calon yang dianggap tidak mewakili aspirasi mereka, dan bukan sekadar menjalankan prosedur elektoral semata. 

 

Namun demikian, kemenangan ini juga menyisakan catatan kritis terhadap kualitas partisipasi politik masyarakat. Tingkat partisipasi pemilih yang hanya mencapai 52% menunjukkan bahwa meskipun terdapat perlawanan simbolik terhadap dominasi politik, antusiasme dan keterlibatan aktif masyarakat masih tergolong rendah. Apatisme politik dan ketidakpercayaan terhadap institusi politik dapat menjadi tantangan serius dalam menjaga keberlanjutan demokrasi yang sehat dan partisipatif.

 

Nama -nama-nama seperti Ferry Insani – Syahbudin, Naziarto- Usnen, Andi Kusuma – Budiyono ,  Rusli Jasli - Aksan Visyawan,  dan Rato Rusdiyanto- Ramadian adalah nama yang akan bertarung pada Pemilukada ulang di Kabupaten Bangka.

 

Dengan lima pasangan kontestan, ini bukan sekadar daftar nama, tapi daftar rasa dari harapan, kecemasan, hingga ambisi. Semua ingin “menikmati lapis legit ” yang sama, tapi jumlah piringnya terbatas, dan sendoknya pun berebut. Dalam konteks ini, terjadinya pemilu ulang merupakan gejala menarik dari sistem demokrasi kita. Menurut Jimly Asshiddiqie (2007), pemilukada adalah manifestasi kedaulatan rakyat secara langsung dalam memilih pemimpinnya. 

 

Namun ketika pemilukada justru menghasilkan kotak kosong sebagai pemenang, kita patut bertanya,  di mana letak efektivitas sistem ini?, jadi pemeran parodi sikok bagi limo adalah korban yang salah satunya akibat kotak kosong .

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan