Siung Buaya
Ilustrasi-screenshot-
Jajaran kepala desa saling berpandangan, walaupun mereka tidak mengucapkan sepatah kata, namun raut muka mereka sudah mewakili kekaguman mereka terhadap tetua desa yang bisa membaca pikiran mereka.
Tetua desa memutarkan badannya menghadap ke arah Barat, kemudian menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, lalu mulutnya komat-kamit seperti sedang berdiskusi. Setelah sekitar satu menit, sang tetuah desa selesai dengan urusannya.
“Hari Jumat besok kita lakukan ritualnya,” tetua desa kembali berbicara kepada kepala desa dan jajarannya. “Untuk hari ini kita bubar.”
Setelah musyawarah selesai dan tetuah desa sudah pergi. Sang kepala desa membagi tugas kepada jajarannya untuk menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan pada upacara pencarian anak yang hilang.
“Apakah anak itu juga kena siung buaya ya pak?” tanya salah seorang jajaran desa kepada kepala desa.
“Mungkin juga,” kepala desa menjawab sekenanya.
***