Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Siung Buaya

Ilustrasi-screenshot-

Warga pun kembali ke rumah masing-masing meninggalkasn sang ibu yang masih sesenggukan menatap ke arah sungai yang mulai pasang. Tatapannya tajam penuh dendam dan kebencian. Ia dendam dan benci dengan dirinya sendiri, kenapa tadi tidak mengawasi anaknya mandi.

 

Cerita tentang hilangnya anak saat sedang mandi sebenarnya sudah sering terjadi di desa Pulut. Penyebab hilangnya terkadang dihubungkan dengan peristiwa mistis. Jika ada anak yang hilang ketika mandi, maka warga desa menganggap itu diambil oleh penunggu sungai.

 

*****

 

“Kita harus menyiapkan kembali ayam jago hitam, bambu temu ruas, dan tiga sisir pisang mas,” ujar salah seorang yang sudah cukup tua berjanggut putih kepada kepala desa dan jajarannya, ketika musyawarah di balai desa.

 

Orang yang berjanggut itu sering dipanggil tetuah desa. Selain memang usianya yang sudah lanjut, lelaki itu juga sering membantu warga yang kesulitan, terutama dalam hal mistis, sehingga ia salah satu orang yang dihormati selain kepala desa di desa itu. Musyawarah sambil lesehan itu selalu dilaksanakan jika ada musibah menimpah desa, termasuk musibah anak hilang kemarin.

 

“Untuk kali ini ayamnya kita potong di pinggir sungai, setelah itu bambu temu ruas dan pisang masnya kita lemparkan ke sungai setelah dicampur dengan darah ayam” tetuah desa terus memberikan arahan sambil mengubah posisi duduknya.

 

Jajaran kepala desa manggut-manggut tanpa berani untuk bertanya apalagi membantah. Mereka percaya dengan tetua desa itu, karena memang sudah terbukti selama ini tetuah desa itu selalu berhasil melaksanakan misinya. Walaupun untuk kali ini syarat yang diminta sedikit berbeda dengan sebelumnya. Sementara sang kepala desa menampakkan ekspresi datar.

 

“Untuk kasus yang satu ini, lebih berat dengan sebelumnya” ujar tetua desa, seakan mengetahui isi hati jajaran kepala desa.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan