Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Rokok Ayah

Rokok Ayah.-ilustrasi-

"Bau rokok!" kataku ketika ayah baru saja pulang dan mendekatiku kala membaca koran di teras. 

 

Aku segera beranjak masuk ke dalam rumah. Ayah diam. kulirik ayah hanya termenung. Ada butiran air mata yang mengalir di pipinya. Aku merasa sangat bersalah. 

 

"Maafkan anakmu ini, Ayah," kataku dalam hati. 

 

Sejak peristiwa itu, kuperhatikan ayah sering ragu-ragu mendekatiku. Ia akan mencium baju yang ia kenakan. Sepertinya memastikan diri bahwa dirinya tidak lagi bau rokok. 

 

Aku tahu ayah pasti sudah berusaha keras untuk berhenti merokok. Aku juga tahu bahwa bukan perkara gampang berhenti dari kebiasaan merokok. 

 

Ayah juga kulihat sering gelisah. Seperti orang yang kehilangan sesuatu. Apalagi saat ayah mengetik di depan laptopnya. Aku terkadang kasihan pada ayah. Namun, aku tak juga boleh kalah. Aku hanya ingin ayah berhenti merokok. Titik dan tanpa tapi.

 

Ayahku perokok. Berat, sangat berat. Namun itu dulu. Sekarang ayah sudah tak merokok. Bau rokok pun sudah tak lagi kucium dari tubuhnya.

 

Hari ini ayah didatangi guru dari sekolah adikku. Meminta ayah untuk datang ke sekolah besok pagi, menghadap kepala sekolah dan wali kelas. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan