Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Rokok Ayah

Rokok Ayah.-ilustrasi-

Cerpen Laverna 

AYAHKU perokok. Setiap hari ia selalu merokok. Tempat ayah merokok adalah teras rumah kami. Kursi dan meja di pojokkan itu adalah tempat favoritnya.

 

Ayahku perokok berat. Satu hari bisa menghabiskan berbatang-batang rokok. Jumlah persisnya aku tidak tahu. Tapi aku kerap melihat bungkus rokok. Baik di lemari buku, meja, ataupun di halaman rumah. Paling banyak di tempat sampah. 

 

Aku juga sering melihat puntung rokok yang memenuhi asbak. Asbak yang besar. Seukuran piring makan orang dewasa. Ayah akan lebih parah merokok jika sedang berhadapan dengan laptopnya. Terkadang asap rokok ayah sudah masuk ke dalam rumah. Ayah baru akan berhenti jika salah satu dari kami, aku, bunda atau adikku sudah menjerit dari dalam rumah.

 

Kata bunda, ayah merokok sejak masih muda dulu. Artinya sejak aku belum lahir. Jika dihitung dengan umurku yang hampir 16 tahun, mungkin sudah 20 atau 30 tahun ayah merokok.

 

Jika ayah mulai merokok di usianya 20 tahun, artinya ayah sudah merokok sekitar 26 tahun. Jika satu hari merokok dua bungkus, artinya ayah sudah merokok sebanyak 18.980 bungkus. Jika aku hitung lagi perbatang. Ahh.. sudah ratusan ribu batang rokok yang ia isap.

 

Aku jadi benci ayah. Andai ayah tak merokok. Mungkin uang ayah sudah banyak. Sehingga aku dan adikku tak perlu menunggu ayah gajian untuk membeli buku pelajaran sekolah. Tak perlu menungu jika meminta dibelikan sepatu baru. 

 

Aku tak mau menghitung jumlah uang rokok ayah. Aku takut kebencianku pada kebiasaan ayah merokok menjadi-jadi. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan