Rokok Ayah
Rokok Ayah.-ilustrasi-
Tidak seperti beberapa orang tua lain yang kulihat tetap merokok di atas kendaraan saat bersama keluarganya. Atau pernah kulihat seorang bapak merokok saat menggendong anaknya. Aku benci sekali melihatnya.
Meski begitu aku tetap tak suka ayah merokok. Aku berpikir harus mencari cara agar ayah bisa berhenti merokok. Setidaknya mengurangi kebiasaan merokok. Aku tahu menghentikan kebiasaan rokok memang sangat sulit. Tapi itu bukan tidak bisa.
Aku membaca banyak artikel tentang berhenti merokok. Banyak orang yang mati karena rokok. Banyak orang yang sakit karena rokok. Tapi banyak juga orang yang bisa berhenti merokok. Alasanpun beragam, karena sakit akhirnya terpaksa berhenti, ada juga berhenti merokok karena dalil dari agama.
Aku mulai kerap mengirimkan tautan artikel-artikel itu pada Ayah. Setiap kali kukirim, setiap kali juga ayah membalas dengan kata siap. Ditulis huruf kapital. Jawaban ayah juga ditambah dengan stiker orang sedang hormat.
Tapi ayah masih juga merokok. Aku sangat kesal dengan ayah. Bahkan pernah memearahi ayah dan mengajak ayah berdebat.
Begitulah ayah. Selalu diam jika saat aku tunjukkan rasa kesalku terhadap rokoknya.
Pernah aku membuang semua rokok ayah yang ada di meja teras. Aku sengaja melakukannya. Aku menunggu ayah menanyakan rokoknya. Tapi ternyata ayah tak melakukannya. Ia hanya diam dalam pencariannya. Mungkin juga ia tahu bahwa aku yang menyembunyikannya. Bahkan rokok ayah yang ada di dalam tas kerjanya juga ambi dan kubuang.
Ayah sudah jarang duduk di teras dan merokok. Pun ketika sedang mengetik, sudah jarang asap rokok mengepul. Hanya sesekali saja merokok. Itupun ketika mendengar suara kami, ayah langsung membuang rokoknya dan mengipas-ngipas asap rokok di sekitarnya.