Pesawat UNCI yang membawa para pemimpin Republik Indonesia mendarat di Lapangan udara Maguwo jam Satu siang. Kedatangan Presiden, Wakil Presiden, beserta rombongan mendapat sambutan yang hangat dari rakyat Yogya. Mulai dari Lapangan Udara Maguwo sampai di istana negara, jalan-jalan telah penuh sesak dengan rakyat yang menyambut kedatangan mereka. Bukan hanya di jalan-jalan saja, bahkan di atas genteng rumah, di atas pohon-pohon pun rakyat berdiri menantikan kedatangan Presiden, Wakil Presiden, dan para pemimpin lainnya yang sangat mereka cintai (SESKOAD, 1991:313, 316).
Bangka dan Yogyakarta merupakan satu simpul perjuangan kemerdekaan. Yogjakarta menurut Bung Karno menjadi termasjhur oleh karena djiwa-kemerdekaannya. Hidupkanlah terus djiwa-kemerdekaan itu, sedangkan menurut Bung karno:
“Rakyat Bangka njata bersemangat republikein, njata berkehendak Bangka masuk dalam daerah Republik. Seseorang pemimpin rakjat Bangka yang tidak berbuat sesuai dengan kehendak rakjat Bangka itu, dan berbuat memisahkan rakjat Bangka dari Republik, adalah berbuat bertentangan dengan demokrasi, bahkan mengchianati demokrasi itu…Merdeka, Mentok, 21/2 ’49, Soekarno, Pres.***