Oleh: Dato’ Akhmad Elvian
Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia
SETELAH mendapatkan kepastian tentang waktu kembalinya pemimpin Republik Indonesia yang diasingkan di Bangka ke Yogyakarta pada Tanggal 6 Juli 1949, sebagaimana kenangan Hatta pada otobiografinya yang berjudul “Untuk Negeriku”:
------------------
“DIDUGA bahwa kami di Bangka akan Kembali ke Yogya tanggal 5 atau 6 Juli 1949. Atas usul Cochran, kami berangkat dari Bangka Kembali ke Yogya tanggal 6 juli 1949, kenang Hatta”.
Pada tanggal 4 Juli 1949 pemimpin Republik melakukan perpisahan di Pesanggrahan BTW Mentok yang dihadiri sekitar 1000 orang. Setelah berinteraksi selama 197 hari dengan rakyat Bangka banyak kenangan kenangan manis yang membanggakan. Bung Hatta, R.S. Suryadarma, Asaat, A.G. Pringgodigdo sudah berinteraksi dengan masyarakat Bangka sejak 22 Desember 1948, kemudian disusul oleh M. Rum dan Ali Sastroamijoyo sejak tanggal 31 Desember 1948, kemudian menyusul Bung Karno dan Agus Salim sejak tanggal 6 Februari 1949.
Pesanggrahan Menumbing merupakan saksi sejarah bagi Hatta, R.S. Suryadarma, Asaat, A.G. Pringgodigdo, M. Rum dan Ali Sastroamijoyo. Di ketinggian sunyi Menumbing ditorehkan catatan peristiwa sejarah penting diantaranya: pada tanggal 10 Januari 1949, Pejabat Belanda Mr Brouwer menemui dan menyodorkan perjanjian kepada Hatta untuk tidak berpolitik lagi namun ditolaknya, selanjutnya pada tanggal 15 Januari 1949, Delegasi Komite Jasa-jasa Baik PBB (the United Nations Good Offices Committe) yakni Critchley (Australia) dan Herremans (Belgia) melihat kondisi pemimpin Republik yang dikerangkeng dan memprihatinkan, dilanjutkan pada tanggal 17 Januari 1949 datang Penasihat Umum Kehakiman Belanda Mr. Gieben dan Kepala Staf Umum Kolonel Thomson, memberikan kebebasan bergerak para pemimpin Republik Indonesia.
Para pemimpin RI kemudian mendapat kebebasan bergerak di Pulau Bangka, namun tetap tinggal di Pesanggrahan Menumbing dari tanggal 18 Januari-4 Juli 1949, kecuali Suryadarma yang diperintahkan tinggal di House Hill BTW Pangkalpinang. Para pemimpin Republik Indonesia di Menumbing menerima berbagai tamu penting diantaranya ketua Bangkaraad Masyarif Datuk Bendaharo Lelo dan penasehatnya Mr. Krom pada tanggal 18 Januari 1949. Tidak ketinggalan Kepala Pemerintah Mentok, Kemas Zainal Abidin juga datang berkunjung dan berkenalan dengan 6 pemimpin RI pada tanggal 20 Januari 1949. Selanjutnya Anggota Delegasi Republik (Supomo, Soedjono dan Darmasetiawan) datang berkunjung dan berdiskusi sampai larut malam pada tanggal 22 Januari 1949. Selanjutnya diadakan pertemuan pemimpin RI (Sukarno, Hatta, Darmasetiawan, Supomo dkk) dengan utusan BFO (Anak Agung Gede Agung, Abdul Rivai dan dr. Ateng) di Pesanggrahan Menumbing pada tanggal 7 Februari 1949. Rombongan BFO (Sultan Hamid II, Anak Agung Gde Agung, Djumhana Wijiaatmadja, Kaliamsjah, Ateng dan Abdul Rivai) kembali mengunjungi Mohammad Hatta pada tanggal 2 Maret 1949. Mohammad Hatta juga sempat menulis surat berkop Wakil Presiden ditujukan kepada LN Palar, Perwakilan Republik Indonesia di PBB pada tanggal 2 Mei 1949.
Selanjutnya Pesanggrahan BTW Mentok tempat pengasingan Presiden Sukarno dan Haji Agus Salim, menjadi sangat bersejarah karena menorehkan beberapa peristiwa Sejarah besar diantaranya: Sukarno dan Haji Agus Salim menerima kunjungan Mr. Gieben pada tanggal 26 Februari 1949, dan dua hari kemudian menerima kunjungan Dr. J.P. Koets pada tanggal 28 Februari 1949. Sukarno menerima kunjungan Anggota Delegasi UNCI (United Nations Commisions for Indonesia) Merle H. Cochran (Amerika Serikat) didampingi William Lacy, wakil kepala Departemen Timur Jauh Departemen Luar Negeri AS pada tanggal 24 Maret 1949. Sukarno juga menerima kunjungan Sultan Hamengkubuwono IX pada tanggal 29 April sampai 2 Mei 1949, selanjutnya Sukarno menerima Mohammad Rum, Leimena, Supomo, Ali Sastroamidjojo, Djuanda, Latuharhary dan AG. Pringgodigo yang melaporkan draf akhir perundingan antara Republik Indonesia dengan perwakilan Belanda Dr. H.J. Van Roijen pada tanggal 6 Mei 1949, saat itu Sukarno membaca draff akhir perjanjian Rum-Royen di dapur pesanggrahan BTW Mentok. Sukarno dan para pemimpin RI lainnya juga menerima Rombongan wartawan dari Amerika pada tanggal 21 Juni 1949. Disamping Dua penanda bersejarah di atas terdapat 26 aktivitas pemimpin Republik dilaksanakan di Gedung House Hill BTW Pangkalpinang (dapat dilihat pada gallery Penegakan Kedaulatan Negara di Museum Timah Indonesia Pangkalpinang)
Dalam buku Yogyakarta-Bangka Menegakkan Kedaulatan Negara, 1948-1949, karya Akhmad Elvian dan Ali Usman, yang diterbitkan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta, Tahun 2023, hal. 162 dan 163, bahwa: “Untuk mendukung kembalinya pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta, diadakan penggalangan dana yang dimulai pada bulan Mei 1949 dengan pembentukan panitia yang terdiri dari Persatuan Wanita Indonesia (PERWANI), Persatuan Dagang Indonesia (PERDI), Serikat Nasional Indonesia (SENI), Serikat Kaum Buruh (SKB) dan Serikat Rakyat Indonesia (SERI). Panitia ini dipimpin oleh Depati Ali Asik sebagai ketua dan Daniali Abdullah (Wakil Ketua Serikat Kaum Buruh (SKB) dan redaktur “Menara Buruh”). Sebagai pembina dan penasehat dipercayakan kepada Masyarif Datok Bendaharo Lelo (Ketua Dewan Bangka) dan Demang Sidi Minik (Kepala Pemerintahan Pangkalpinang). Panitia menargetkan akan mengumpulkan dana sebesar f. 200.000 (gulden) dan akan diserahkan langsung kepada Presiden Republik Indonesia Sukarno”.
Untuk mendukung kembalinya pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta kemudian dibentuk panitia lokal di seluruh Pulau Bangka meliputi Pangkalpinang, Petaling, Sungaiselan, Sungailiat, Baturusa, Belinyu, Toboali, Koba, Mentok dan Jebus. Metode pengumpulan dana dilaksanakan dengan beberapa cara, yakni melalui sumbangan perorangan, melalui penjualan barang, kegiatan pertunjukan bioskop, pertandingan olahraga dan pertunjukan keroncong di pasar. Pengumpulan dana melalui penjualan dilakukan melalui Dua jenis penjualan yakni penjualan bunga dan penjualan Dasi kupu-kupu berwarna merah putih. Salah satu cara menarik untuk pengumpulan massa memudahkan sumbangan adalah dengan mengadakan pertandingan olahraga. Kemungkinan besar olahraga yang ditandingkan adalah sepak bola, seperti yang dilakukan di Pangkalpinang pada akhir bulan Mei 1949. Penggalangan dana juga dilakukan melalui pemutaran film di Bioskop. Metode terakhir dalam pengumpulan dana dilakukan melalui pertunjukan musik keroncong di pasar-pasar.
Selanjutnya dalam buku yang sama Yogyakarta-Bangka Menegakkan Kedaulatan Negara, 1948-1949, Akhmad Elvian dan Ali Usman, Dinas Kebudayaan DIY, Yogyakarta, 2023 menulis tentang laporan Politiek Verslag over de 1e helf Juli 1949 van de Residentie Bangka en Billiton nomor 364/Geheim Eigenhandig tanggal 25 Juli 1949, dari Residen Bangka Belitung Dr. C.Lion Cachet yang melampirkan satu dokumen penting berjudul: “Perhitungan” Kas Pusat Panitia Pembangunan “Djogdjakarta” Pangkalpinang”, tanggal 22 Juni 1949. Laporan itu mengungkapkan fakta, bahwa rakyat Bangka berhasil mengumpulkan dana sebesar f 90.170.18 (gulden) dari kegiatan pengumpulan dana untuk mendukung kembalinya pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta. Tiga besar daerah penyumbang tercatat berasal dari Pangkalpinang, Mentok dan Sungailiat. Dana diserahkan sehari sebelum kembalinya pemimpin Republik Indonesia yang diasingkan di Bangka ke Yogyakarta yaitu pada Tanggal 5 Juli 1949 bertempat di Balai Gemeente Pangkalpinang disaksikan sekitar 3000 rakyat Bangka dan diserahkan langsung kepada Presiden Republik Indonesia Ir Soekarno. Sumbangan yang sama juga dilakukan oleh Rakyat Belitung beberapa bulan kemudian dengan dana yang diserahkan sebesar 20.000 gulden.
Perjuangan diplomasi yang dilakukan di pulau Bangka dan di markas PBB, Washington DC untuk menegakkan kembali Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 membawa hasil dalam Konferensi Rum-Royen tanggal 7 Mei 1949, yang salah satu butirnya yaitu kembalinya Pemerintahan dan pemimpin Republik Indonesia ke Yogyakarta. Dalam buku Memoir Mohammad Hatta disebutkan bahwa ”pada suatu waktu ketika kami datang (dari Menumbing, Mentok) ke Pangkal Pinang untuk bertemu KTN yang datang dari Jakarta, Mr. Gafar Pringgodigdo berkata, Aku merasa ada Dua sumber percaturan internasional di dunia ini, yaitu (di) United Nations dan Bangka” (Hatta, 1979:302).
Setelah dilaksanakan perpisahan antara pemimpin republik yang diasingkan di Bangka di Pesanggrahan Mentok, Tanggal 4 Juli 1949, Soekarno, Muhammad Hatta, Haji Agus Salim, Muhammad Rum, Ali Sastroamijoyo, Mr. Assaat, Mr. AG. Pringgodigdo dan Komodor Suryadarma meninggalkan Mentok menuju Pangkalpinang. Selanjutnya pada Tanggal 5 Juli 1949 di Balai Gemeente Pangkalpinang dilakukan perpisahan dengan masyarakat Pangkalpinang dan Bangka umumnya dihadiri sekitar 3000 orang. Pada saat itu diserahkan uang sebesar 90.170.18 gulden untuk “Fonds Penjokong Pembangunan Djogjakarta” hasil penggalangan dana masyarakat dari 10 wilayah yaitu Pangkalpinang, Petaling, Sungaiselan, Sungailiat, Baturusa, Belinyu, Toboali, Koba, Mentok dan Jebus, diserahkan langsung ke Presiden Republik Indonesia Ir Soekarno.
Hari hari terakhir di Pulau Bangka, setelah menginap di House Hill BTW Pangkalpinang dari tanggal 4-6 Juli 1949, pada hari Rabu tanggal 6 Juli 1949, suasana sibuk terlihat di Kota Pangkalpinang. Orang berdatangan ke Lapangan Udara Kampung Dul, baik masyarakat Bangka, pejabat Belanda maupun pejabat Bangka. Pesawat datang dari Jakarta membawa Delegasi Republik; Maria Ulfah Santoso, Dr. Darmasetiawan, Prof. Supomo dan Mr. Sudjono, sekretaris delegasi RI telah tiba di Lapangan Udara Kampung Dul yang datang untuk menjemput. Para pemimpin Republik Indonesia yang ada di Bangka, yakni Soekarno, Muhammad Hatta, Haji Agus Salim, Muhammad Rum, Ali Sastroamijoyo, Mr. Assaat, Mr. AG. Pringgodigdo dan Komodor Suryadarma akhirnya meninggalkan pulau Bangka setelah 197 hari berada di tengah-tengah masyarakat Bangka yang sangat cinta pada Republik Indonesia. Sebelum berangkat rombongan berpamitan dengan masyarakat Pangkalpinang dan masyarakat Bangka umumnya, bertempat di Balai Gemeente Pangkalpinang. Pada saat itulah Bung Karno mengatakan sloka yang menggugah semangat kebangsaan, bahwa “Dari Pangkalpinang Pangkal Kemenangan Bagi Perjuangan”.