Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Dulang dan Tudung Saji (Bagian Satu)

Akhmad Elvian-screnshot-

Oleh: Dato’ Akhmad Elvian

Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia

KATA “dulang” berarti sejenis talam yang awalnya terbuat dari kayu, dan berfungsi untuk melanda, memilah atau melimbang jenis bijih logam yang diambil dari dalam tanah seperti Besi, Emas atau Timah. 

--------------

DULANG digunakan pada tekhnologi awal penambangan Timah di Pulau Bangka sama seperti masyarakat Bangka melakukan penambangan pasir Besi (besi ditambang di wilayah Paku dan dijadikan sebagai upeti serta alat tukar yang disebut uang Paku). Penduduk asli menggali lubang kecil sedalam Enam kaki, terkadang dihubungkan dengan terowongan. Satu atau Dua orang pria bekerja di lobang dan terowongan, mengangkut tanah berisi bijih Timah di keranjang untuk dicuci dan dipisahkan (menggunakan Dulang) di sungai terdekat (Heidhues,2008:16). Penggalian atau pelubangan (Melayu: tebuk/tebok) dilakukan berpindah-pindah atau dialihkan bila deposit Timah habis (Melayu: alih berarti pindah atau geser). Menurut M.H. Court, Residen Inggris untuk Palembang dan Bangka: “In the district of Toobooallie particularly, the native population have been accustomed, when finding a vein of ore not very deep, to dig a hole, and then scrape the ore out underground, to the extent they found it practicable to cany on such plan of operation, in their simple manner, which the Malayese, in describing, call working like rats. The ground about Toobooallie has been very much undermined in this way, as also that at Rangaw, above Kuppo” (Court, 1821: 230,231). Penggunaan Dulang untuk melanda, memilah atau melimbang jenis bijih logam masih digunakan hingga sekarang.

Dulang juga kemudian meluas fungsinya untuk meletakkan atau menjadi pengalas makanan pada waktu dihidangkan. Biasanya dulang untuk alas hidangan sudah berkembang bentuk dan bahannya, dibuat agak lebar, datar dan dibuat menggunakan logam seperti besi, tembaga, atau kuningan, bahkan sekarang sudah menggunakan bahan dari plastik. Di samping itu di Bangka dan Belitung terdapat juga Dulang berkaki yang disebut dengan “Pahar”. Dulang berkaki atau Pahar dalam adat dan tradisi di Bangka termasuk hampir ada menyebar di Nusantara, digunakan untuk meletakkan makanan atau hidangan istimewa yang disiapkan oleh keluarga calon mempelai perempuan untuk pihak calon mempelai laki laki pada saat acara adat pernikahan, sebagai sandingan dari “Mahar” yang wajib diberikan pihak calon mempelai laki laki kepada calon mempelai Perempuan. Di samping itu, Pahar juga berfungsi untik meletakkan buah buahan (pada acara adat Sripuan) dan Pahar dijadikan kaki atau untuk meletakkan Rimpang Telok Seroja pada saat acara khitanan (Telok Sunat), khataman Quran (Telok Tamat) dan acara pernikahan (Telok Serujo atau Seroja). 

Kata dulang sering digunakan untuk dibuat perumpamaan atau peribahasa maupun pantun, misalnya peribahasa, “bagai dulang dengan tudung saji” yang bermakna sesuatu yang berpadanan dengan selaras dan serasi, selanjutnya ada peribahasa, “lain dulang lain kaki, lain dulang lain hati”, yang bermakna dan menunjukkan perbedaan sifat dari setiap orang, kemudian ada juga peribahasa yang menyatakan, “nyaman di dulang dak nyaman di tulang”, yang berarti sifat berlawanan dari hasil satu pekerjaan. Dalam konteks  hidangan makanan ada kearifan lokal yang menyatakan ungkapan, “sedulang cerak sedulang ketan”, “sekawan nasi, sedulang lauk”, (sebagai ungkapan atau perlambang hidangan makanan untuk kehormatan). Dulang juga secara filosofis sebagai perlambang kerja keras, semangat yang tinggi dalam kebersamaan dan saat ini dulang juga berfungsi untuk meletakkan sajian dalam tradisi “nganggung sedulang cerak, sedulang ketan” , saat sukacita panen padi (ngembaruk), sebagai simbol kebersamaan, semangat kegotongroyongan dan perlambang dari kemakmuran dan keberkahan. Kata dulang juga bisa dijadikan sebagai sindiran terhadap perilaku seseorang seperti, “mengata dulang, paku serpih”, yang bermakna menyindir orang yang menganggap dirinya lebih baik dari orang lain, padahal dirinya sangatlah buruk perilakunya. 

Di pulau Bangka sedikitnya terdapat Dua toponimi tempat atau wilayah geografis yang menggunakan kata “dulang”. Wilayah geografis pertama yang menggunakan kata dulang adalah penamaan gunong di Menumbing dengan nama gunong “Dulang Pecah”. Penamaan seperti ini dilatari, karena bentuk gunong tersebut mirip dulang yang pecah, sama halnya dengan gunong satunya lagi yang berada dekat Gunong Menumbing yang diberi nama “Gunong Kukus”, karena bentuknya mirip dengan kukusan. Selanjutnya toponimi kedua di pulau Bangka yang menggunakan kata dulang adalah nama satu sungai di Bangka Utara tepatnya di wilayah Mapur dengan nama “Sungai Mendulang”. Penamaan nama sungai yang terletak antara wilayah Pejem dan Tengkalat dengan kata mendulang sangat unik karena toponimi sungai di wilayah Mapur dengan kata mendulang berakar dari aktifitas masyarakat mendulang Timah atau bahan logam lainnya. Mendulang adalah salah satu bagian dari teknologi penambangan Timah pribumi Bangka sebelum kedatangan orang Cina yang membawa teknologi kulit dan teknologi kulong kulit. 

Toponimi sungai Mendulang di kawasan Mapur dapat dipastikan berasal dari kata Mendulang bijih Timah sebagai nama teknologi awal atau teknologi pribumi Bangka orang Mapur dalam menambang Timah. Penggalian atau pelubangan (sistem tebuk/tebok) dilakukan berpindah-pindah atau dialihkan (Melayu: “alih” berarti pindah atau geser) bila tidak dijumpai lagi Timah dalam jumlah atau deposit yang banyak (teknik tebuk/tebok dan alih/ ale kemudian dikenal dengan tekhnologi toboalih). Sejak awal ditemukan deposit, Timah ditambang dengan cara ini dan berlangsung berkisar 12 (Duabelas) tahun sampai Palembang di bawah Sultan Mahmud Badaruddin (Lange, 1850:16). Maksud Lange di sini adalah masa pemerintahan  Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikromo (Tahun 1724-1757 Masehi). Setelah masa itu Timah ditambang dengan teknik Kulit (teknologi yang dibawa orang Cina) dan teknik Kolong. Teknologi awal penambangan Timah dengan sistem pelubangan berpindah dan pemurnian Timah dengan menggunakan Dulang adalah kearifan lokal yang merupakan kekayaan intelektual masyarakat Bangka. Sementara itu kegiatan peleburan atau penyempurnaan (pemurnian) dari bijih Timah sedikit mengadopsi teknologi yang diperkenalkan oleh orang Cina. Berdasarkan catatan Lange meskipun cara dan pengolahan sederhana mereka lakukan, dengan hasil yang luar biasa, sehingga produksi Timah Tahun 1740 sudah sebesar 25.000 pikul (Lange, 1850:16). 

Keberadaan wilayah Pangkal Mapur dan sekitarnya termasuk wilayah tengkalat dan mendoelang sebagai pusat penambangan dan pengumpulan Timah dapat diketahui dari surat tentang: Nota Perencanaan Sehubungan dengan Amir (Besluit 25 Maret 1851 No. 13) …… Bong Atjong aannemen der mynen in het Mapoersche heeft aan de muitelingen kruid verstrekt, op dat zij zyne myne angemoud zouden laten, en aan Amir doen beloven, dat de Chinezen, door den Resident met moujelykheden hunnerzyds drugen, donzelven van zouden tachten te bewegen, om hem zynen zoon witte leveren. Het deelhebbers in de myn Lapento (Blinjoe) eene der grootste van Banka hebben aan Amir kruid verstrekt. Het afbranden van alle de mynen in het Tjingalkhe zou juist omstreeks den tyd hebben plasts gevonden, toen de luiten. Dekker met eene patroille en eenige barissans de muitelingen is overwallen en hen heeft uiteen gezaagd. Zonder die toevallige, toch voor ons hangs gelukkige omstandigheid, zouden anstige verwikkelingen zyn onderworden…..(ANRI; Bt 25 Maret 1851, Nomor 13). Terjemahannya secara bebas ...Bong Atjong pemborong/penguasa/kepala tambang Timah di Mapur, memberi kepada pemberontak mesiu. Kepada Amir dijanjikan oleh orang-orang Cina untuk mencoba memaksa residen dengan susah payah, agar menyerahkan putra Amir yang ditahan Belanda. Pemilik tambang Lafento (liukfunthew) di Blinyu yang sebagian besar dari Bangka, memberi mesiu kepada Amir. Pembakaran semua tambang di Tjingal dilakukan dalam waktu sama, ketika Letnan Dekker dengan patroli dan beberapa barisan diserang oleh pemberontak ….Keberadaan orang Cina di pulau Bangka sebagaimana halnya Bong Atjong yang disebutkan sebagai pemborong Timah dari Mapur, tidak terlepas dari kebijakan Sultan Palembang, Mahmud Badaruddin I Jayowikromo (Tahun 1724-1725) yang mendatangkan pekerja tambang Timah Orang Cina ke pulau Bangka untuk meningkatkan produksi Timah. Orang orang Cina pekerja tambang tersebut banyak juga yang kemudian menikah dengan pribumi Bangka orang Mapur dan proses asimilasi tersebut masih terjadi dan berlangsung hingga sekarang (Bersambung). 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan